Banyak harapan, dengan semangat 212 yang sukses memenangkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, paling tidak masyarakat muslim juga bisa memenangkan perbankan syariah. Kali ini bukan soal halal dan haram, atau riba dan tidak riba. Yang harus dipikirkan ialah kemampuan umat Islam dalam memenangkan kompetisi dalam menguasai ekonomi.
Tidak mungkin perbankan syariah mendominasi ekonomi Indonesia jika perbankan syariah masih tertutup dan tidak terbuka bagi semua golongan. Nasabah syariah sudah seharusnya diterima dengan cara yang sama, kendati mereka berasal dari kelompok lain yang beda status agama dan golongannya.
Perbankan syariah harus terus meningkatkan service level dan yang terpenting ialah persoalan governance. Persoalan governance perbankan syariah menjadi hal penting sekarang ini. Jangan mentang-mentang bank umat Islam tidak bisa ditutup—karena faktor politik, maka mengelola bank syariah dengan seenaknya.
Sudah waktunya perbankan syariah untuk semua, tanpa ada rasa takut bagi umat lain yang memiliki kekuatan ekonomi lebih kuat. Sebab, saat ini eksklusivitas perbankan syariah sulit mendorong perbankan syariah menguasai pasar. Ibaratnya, perbankan syariah saat ini harus lebih terbuka menerima siapa saja. (*)
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Infobank
Poin Penting Kredit yang belum dicairkan mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit… Read More
Poin Penting Kredit perbankan 2025 tumbuh 9,69 persen (yoy), masih dalam kisaran target BI 8–11… Read More
Poin Penting Indonesia-India dorong ekosistem AI inklusif dan beretika melalui kerja sama strategis. AI diposisikan… Read More
Poin Penting PT Agincourt Resources, entitas usaha UNTR, termasuk dalam 28 perusahaan yang dicabut izin… Read More
Poin Penting IHSG melemah 1,36 persen dan ditutup di level 9.010,33, tertekan sentimen global serta… Read More
Poin Penting BI mengakui pelemahan rupiah dipengaruhi persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI,… Read More