Banyak harapan, dengan semangat 212 yang sukses memenangkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, paling tidak masyarakat muslim juga bisa memenangkan perbankan syariah. Kali ini bukan soal halal dan haram, atau riba dan tidak riba. Yang harus dipikirkan ialah kemampuan umat Islam dalam memenangkan kompetisi dalam menguasai ekonomi.
Tidak mungkin perbankan syariah mendominasi ekonomi Indonesia jika perbankan syariah masih tertutup dan tidak terbuka bagi semua golongan. Nasabah syariah sudah seharusnya diterima dengan cara yang sama, kendati mereka berasal dari kelompok lain yang beda status agama dan golongannya.
Perbankan syariah harus terus meningkatkan service level dan yang terpenting ialah persoalan governance. Persoalan governance perbankan syariah menjadi hal penting sekarang ini. Jangan mentang-mentang bank umat Islam tidak bisa ditutup—karena faktor politik, maka mengelola bank syariah dengan seenaknya.
Sudah waktunya perbankan syariah untuk semua, tanpa ada rasa takut bagi umat lain yang memiliki kekuatan ekonomi lebih kuat. Sebab, saat ini eksklusivitas perbankan syariah sulit mendorong perbankan syariah menguasai pasar. Ibaratnya, perbankan syariah saat ini harus lebih terbuka menerima siapa saja. (*)
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Infobank
Poin Penting Komisi XI DPR RI menerima 10 nama calon anggota Dewan Komisioner OJK yang… Read More
Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,60 persen ke level 7.485,84 pada awal perdagangan (11/3), dengan… Read More
Poin Penting Harga emas Galeri24 di Pegadaian naik Rp44.000 menjadi Rp3.083.000 per gram dari sebelumnya… Read More
Poin Penting CGS International Sekuritas memproyeksikan IHSG pada 11 Maret 2026 bergerak variatif cenderung melemah,… Read More
Poin Penting Rupiah menguat tipis pada awal perdagangan 11 Maret 2026 ke level Rp16.854 per… Read More
Oleh Tim Redaksi Infobank PROSES pergantian kursi panas di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasuki babak… Read More