Moneter dan Fiskal

Perang Geopolitik Makin Panas, Pemulihan Ekonomi Global Bisa Terhambat

Jakarta – Perang Geopolitik semakin memperkeruh permasalahan perekonomian global yang semaki lesu. Terganggunya rantai pasok menyebabkan ketidakpastian semakin nyata dan menambah beban perekonomian untuk kembali pulih.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan, menghadapi inflasi dan resesi saja akan sangat menyulitkan, ditambah dengan geopolitik yang semakin melebar tentunya ini akan menambah permasalahan bagi perekonomain global.

“Kedua itu saja sudah berat penanggulangan inflasi dan mengatasi resesi, ini ada faktor ketiga yaitu geopolitik, yang semula hanya persaingan antara negara-negara utama (Rusia-Ukraina) nampaknya sudah bergeser ke Eropa, ada perang real atau perang yang sesungguhnya dan di tempat lain tingkat persaingan geopolitiknya makin berat memengaruhi sistem logistik dan rantai pasok,” ungkap Mahendra dalam Webinar Sosialisasi dan Edukasi Perlindungan Konsumen, Senin, 19 Desember 2022.

Lanjut Mahendra, seperti antara Amerika dengan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) sekarang sudah adanya keinginan untuk memisahkan diri dari satu rantai pasok yang sama.

“Untuk ekonomi dunia yang sejahtera masing-masing negara itu melakukan produksinya berdasarkan comparative advantage, tapi sekarang secara sengaja dua negara besar ini mengatakan kami tidak akan melakukan comparative advantage untuk perdagangan internasional, karena kepentingan strategis dan kepentingan akan teknologi tinggi tidak memungkinkan hal itu terjadi,  sehingga akan memisahkan rantai pasok dari satu dengan yang lainnya,” jelas Mahendra.

Sehingga, ini tidak akan optimal dalam teori ekonomi dan menambah beban perekonomian global yang sudah mengalami stagflasi di negara-negara maju, dengan risiko yang disebabkan geopolitik yang makin berat.

“Kalau mau lihat seberapa lama geopolitik ini akan terus menjadi risiko, para analis geopolitik mengatakan tidak akan selesai persoalan persaingan geopolitik di antara dua negara besar ini kurang dari 10 tahun ke depan. Jadi, itu perspektif kita untuk melihat persoalan yang kita hadapi sekarang,” katanya. (*)

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

GoPay Kini Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di ATM BRI dan Bank BJB, Ini Caranya

Poin Penting GoPay kini bisa tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BRI dan Bank… Read More

5 hours ago

Animo Tinggi, BRI Kanwil Jakarta II Tambah Kuota Mudik Gratis jadi 2.750 Pemudik

Poin Penting BRI Kanwil Jakarta II menambah kuota mudik gratis menjadi 2.750 pemudik dengan 55… Read More

5 hours ago

Proteksi Pemudik 2026, BRI Life Andalkan Produk Asuransi Digital MODI

Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More

5 hours ago

Adira Finance Lepas 300 Pemudik ke Solo dan Yogyakarta, Dapat Cek Kesehatan dan Asuransi

Poin Penting Adira Finance memberangkatkan 300 pemudik dari Jabodetabek menuju Solo dan Yogyakarta melalui program… Read More

6 hours ago

BI Borong SBN Rp86,16 Triliun hingga Maret 2026, Buat Apa?

Poin Penting Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026,… Read More

7 hours ago

BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya

Poin Penting BI menegaskan tidak membatasi transaksi valuta asing, tetapi memperketat kewajiban dokumen underlying untuk… Read More

7 hours ago