Poin Penting
- Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan pertumbuhan KPR 2026 di kisaran 8–11 persen, meski realisasi 2025 melambat ke 6,84 persen (yoy)
- Prospek ditopang potensi penurunan suku bunga, biaya pinjaman lebih ringan, perbaikan keyakinan konsumen, serta dukungan insentif pemerintah
- Tantangan datang dari isu keterjangkauan rumah, kenaikan NPL perumahan, serta potensi friksi kebijakan yang dapat menahan ekspansi kredit.
Jakarta – Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan pertumbuhan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada 2026 berada di kisaran 8-11 persen.
Proyeksi tersebut didorong oleh kinerja KPR yang masih mencatatkan pertumbuhan, meski melambat menjadi 6,84 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan capaian 10,14 persen sepanjang 2025.
Menurut Josua, terdapat sejumlah katalis yang menopang optimisme tersebut, mulai dari arah penurunan suku bunga dan biaya pinjaman yang lebih ringan, perbaikan keyakinan konsumen, hingga meningkatnya rencana pembelian maupun pembangunan rumah.
“Serta berlanjutnya dukungan program pemerintah seperti insentif pajak dan fasilitas pembiayaan rumah,” ucap Josua kepada Infobanknews dikutip, 13 Februari 2026.
Baca juga: Penyaluran KPR iB Hijarah Bank Muamalat Tembus Rp361 Miliar Sepanjang 2025
Namun demikian, ia menilai rentang proyeksi yang cukup lebar itu juga mencerminkan adanya sejumlah faktor penahan. Salah satunya adalah isu keterjangkauan harga rumah yang masih membebani kelompok masyarakat menengah.
Di samping itu, peningkatan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sektor perumahan turut membuat perbankan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan guna menjaga kualitas aset.
“Ditambah potensi friksi koordinasi kebijakan perumahan di masa transisi kelembagaan yang bisa menunda realisasi permintaan efektif,” imbuhnya.
Baca juga: KPR BTN Tumbuh Double Digit, KPP dan BSN jadi Penopang Ekspansi 2025
Lebih lanjut, Josua berharap tren penurunan suku bunga dapat berlanjut pada tahun ini sehingga memperkuat likuiditas perbankan dan mendorong pembiayaan, baik di segmen konvensional maupun syariah, khususnya pada sektor properti.
“Perbankan juga akan sangat dipengaruhi lagi oleh bagaimana daya beli masyarakatnya dan yang tadi saya sampaikan bahwa kuartal keempat kemarin for the first time nih konsumsi rumah tangga sudah tumbuh di atas 5 persen. Apakah ini berlanjut lagi di tahun ini,” ujar Josua. (*)
Editor: Galih Pratama










