Poin Penting
- Pengamat menilai Bank Jambi tidak dalam kondisi krisis, melainkan menjalani proses transformasi.
- Operasional dan layanan perbankan disebut tetap berjalan normal di tengah isu yang beredar.
- Modernisasi dilakukan melalui digitalisasi, efisiensi, dan penguatan tata kelola.
Jakarta – Pengamat perbankan daerah, Laila Farhat menilai kondisi Bank Jambi tengah memasuki fase modernisasi dan transformasi kelembagaan untuk memperkuat sistem perbankan daerah agar lebih sehat, profesional, dan kompetitif.
Penilaian tersebut disampaikannya untuk menepis tudingan krisis kebangkrutan Bank Jambi di tengah gangguan layanan yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, dinamika yang berkembang di ruang publik harus dipahami sebagai bagian dari proses pembenahan internal yang lazim dalam industri perbankan, terutama saat bank daerah dituntut menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan persaingan sektor jasa keuangan.
“Kalau kita melihat indikator perbankan secara objektif, aktivitas operasional Bank Jambi masih berjalan normal. Pelayanan nasabah tetap berlangsung, transaksi keuangan tetap aktif, fungsi penghimpunan dana dan penyaluran kredit juga masih berjalan. Jadi ini bukan krisis, tetapi proses transformasi menuju sistem yang lebih baik,” ujar Laila, dinukil laman Bank Jambi, Selasa, 5 Mei 2026.
Baca juga: Bank Jambi Gandeng SMF, Perkuat Likuiditas Pembiayaan Perumahan Rp200 Miliar
Ia menjelaskan, transformasi Bank Jambi mencakup penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan efisiensi operasional, modernisasi layanan berbasis digital, hingga pembenahan manajemen risiko untuk meningkatkan daya saing bank daerah di tengah kompetisi industri keuangan nasional.
Langkah pembaruan tersebut, kata dia, menjadi kebutuhan penting agar Bank Jambi tidak hanya bertahan sebagai bank pembangunan daerah, tetapi juga mampu berkembang menjadi institusi keuangan regional yang modern dan dipercaya masyarakat.
“Perbankan sekarang berubah sangat cepat. Bank daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem lama. Karena itu modernisasi layanan, digitalisasi transaksi, peningkatan kualitas SDM, dan penguatan pengawasan internal menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis perbankan,” ujarnya.
Fundamental Dinilai Masih Kuat
Laila juga menilai secara fundamental Bank Jambi masih memiliki basis usaha yang kuat karena didukung aktivitas ekonomi daerah, sektor ASN, pemerintah daerah, hingga pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Jambi.
Baca juga: Jurus Bank Jambi Perkuat Sistem Keamanan Siber
Ia menyebut kemampuan bank menjaga layanan operasional dan stabilitas transaksi menjadi indikator penting bahwa kondisi perusahaan masih dalam keadaan terkendali.
“Dalam industri perbankan, kepercayaan publik memang penting. Tetapi ukuran utama kesehatan bank tetap pada kemampuan menjalankan fungsi intermediasi, menjaga likuiditas, dan mempertahankan pelayanan kepada masyarakat. Saya melihat fungsi-fungsi itu masih berjalan baik di Bank Jambi,” tegasnya.
Dorongan Dukungan Publik
Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap rasional dan objektif dalam menyikapi isu yang berkembang, serta mendukung proses transformasi yang sedang berlangsung agar Bank Jambi tumbuh menjadi bank daerah yang lebih profesional dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Transformasi memang sering menimbulkan dinamika, tetapi itu bagian dari proses menuju institusi yang lebih kuat. Yang paling penting sekarang adalah menjaga tata kelola, transparansi, dan konsistensi pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


