Poin Penting
- Pemerintah optimistis neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada bulan depan.
- Defisit Mei 2026 dipicu lonjakan impor migas akibat kenaikan harga minyak dunia.
- Surplus nonmigas masih kuat dan menjadi penopang neraca perdagangan nasional.
Jakarta – Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso optimistis neraca perdagangan Indonesia akan kembali mengalami surplus pada bulan depan seiring harga minyak dunia yang mulai turun.
Susi menjelaskan defisit neraca perdagangan dipicu oleh harga minyak mentah yang meningkat, sehingga berpengaruh terhadap nilai impor di komoditas migas yang melonjak.
“Kemarin defisit (neraca perdagangan) setelah sejak Mei 2020 kan kita surplus. Cuman kalau kita lihat lagi, memang defisitnya kan lebih banyak. Karena defisit migasnya kan memang sangat tinggi. Sampai USD3,7 sekian. Sementara kan non-migasnya kan masih tetap surplus kan, masih USD 2 bilion sekian,” ujar Susi saat ditemui di kantornya, Jumat, 3 Juli 2026.
Baca juga: Kurs Rupiah 2 Juli 2026 Turun ke Rp17.977 per Dolar AS, Dipicu Defisit Neraca Perdagangan
Dia menambahkan tingginya nilai impor migas dibandingkan dengan surplus pada komoditas nonmigas menyebabkan neraca perdagangan RI mengalami defisit.
“Ke depan mudah-mudahan kan ini harga minyak udah mulai turun. Sehingga defisit migasnya mudah-mudahan mulai berkurang. Sehingga hitungan kita sih di bulan-bulan depan seharusnya bisa balik lagi ke surplus,” ungkapnya.
Defisit Dipicu Impor Migas
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar. Meski demikian, secara kumulatif sepanjang Januari–Mei 2026, neraca perdagangan masih membukukan surplus sebesar USD4,03 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan, defisit pada Mei 2026 terutama dipicu oleh defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) yang mencapai USD3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari komoditas hasil minyak dan minyak mentah.
“Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas non-migas tercatat surplus sebesar USD2,15 miliar USD dengan komoditas penyumbang surplus terutama yang pertama dari bahan bakar mineral. Penyumbang surplus berikutnya dari lemak dan minyak hewan nabati atau HS15, dan juga dari besi dan baja,” terang Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Baca juga: BPS Catat Inflasi Juni 2026 Capai 0,44 Persen, Ini Pemicunya
Secara kumulatif, BPS mencatat surplus neraca perdagangan selama Januari–Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD16,31 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD12,28 miliar.
“Tapi, jika melihat periode Januari-Mei 2026, BPS menemukan, surplus perdagangan ditopang oleh komoditas nonmigas USD16,31 miliar. Komoditas migas masih mengalami defisit USD12,28 miliar,” jelas Ateng. (*)
Editor: Yulian Saputra


