Surabaya–Bank Indonesia (BI) mendorong pemerintah daerah (Pemda) menerbitkan obligasi daerah guna mendanai pembangunan infrastruktur, sejalan dengan terbatasnya anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara meminta Pemda memanfaatkan potensi sumber dana melalui pasar modal dengan menerbitkan obligasi, namun Pemda harus berbenah dan berkomitmen untuk menerapkan pengelolaan keuangan yang transparan.
“Transparansi adalah konsekuensi yang harus ditanggung pemerintah daerah jika ingin menerbitkan obligasi, karena masyarakat sebagai investor tentu ingin tahu pengelolaan keuangan dan juga pendapatan dari penerbit obligasi,” ujarnya, di Surabaya, Kamis, 24 November 2016. (Baca juga: Sosialisasi Bisa Dorong Obligasi Daerah)
Ketika pasar keuangan domestik sedang bergairah seperti saat ini, dia menilai, penerbitan obligasi merupakan sumber potensial untuk menyerap dana dari pasar. Terlebih, lanjut dia, beban biaya dana dari obligasi juga lebih rendah bila dibanding bunga kredit perbankan.
“Jadi saat pasar sedang booming, tidak bearish seperti saat ini, sangat potensial biaya dananya turun. Tapi tetap ada konsekuensinya, pemda harus transparan sebelum menerbitkan obligasi,” ucap Mirza. (Selanjutnya: Perdalam pasar uang)
Page: 1 2
Poin Penting OJK menargetkan aset asuransi tumbuh 5-7 persen pada 2026, seiring optimisme kinerja sektor… Read More
Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More
Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More
Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More
Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More