Poin Penting
- Pembiayaan SME Bank Muamalat mencapai Rp2,9 triliun pada 2025, tumbuh 24 persen yoy
- Bank Muamalat memperkuat SME lewat digitalisasi, jaringan kantor, dan margin kompetitif dengan NPF terjaga 0,07 persen
- Pada 2026, Bank Muamalat menargetkan pertumbuhan pembiayaan SME sebesar 30 persen, fokus pada sektor pendidikan, haji-umrah, dan kesehatan.
Jakarta – Di tengah tantangan perlambatan ekonomi dan ketatnya likuiditas industri perbankan, segmen usaha kecil dan menengah (SME) masih menjadi salah satu motor pertumbuhan pembiayaan yang cukup resilien. Potensi pasar yang besar serta tingginya kebutuhan akses pendanaan membuat sejumlah bank memperkuat ekspansi ke sektor ini, termasuk perbankan syariah.
Salah satunya PT Bank Muamalat Indonesia Tbk atau Bank Muamalat mencatatkan outstanding pembiayaan SME sebesar Rp2,9 triliun pada Desember 2025, atau tumbuh 24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan fokus bisnis Bank Muamalat yang terus memperkuat segmen retail.
“SME merupakan segmen prospektif dan terus berkembang karena memiliki peran krusial sebagai penopang stabilitas perekonomian nasional. Sektor ini pun memiliki manajemen atau penyebaran risiko yang baik. Untuk itu, Bank Muamalat terus berupaya memperluas jangkauan pembiayaan SME ke nasabah. Salah satunya dengan mengoptimalkan jaringan kantor yang dimiliki dan digitalisasi untuk kecepatan proses pembiayaan,” ujar Direktur Bank Muamalat, Ricky Rikardo Mulyadi, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca juga: Bank Mualamat Resmikan Lab Banking UIN Imam Bonjol
Ricky menambahkan, Bank Muamalat saat ini memiliki 224 jaringan kantor cabang, termasuk satu kantor cabang di Kuala Lumpur, Malaysia. Seiring penguatan jaringan tersebut, bank syariah pertama di Indonesia ini juga terus menghadirkan produk pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah di segmen SME.
Selain itu, Bank Muamalat memperkuat digitalisasi proses pembiayaan guna meningkatkan akses layanan bagi calon nasabah di berbagai daerah, khususnya wilayah yang belum terjangkau kantor cabang. Bank Muamalat juga menawarkan margin pembiayaan yang kompetitif untuk menjaga keberlangsungan usaha nasabah di tengah persaingan pasar.
“Kami turut memberikan margin yang kompetitif untuk memastikan keberlangsungan usaha di tengah persaingan pasar,” ujar Ricky.
Dari sisi kualitas aset, Bank Muamalat menjaga rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) tetap berada pada level yang sehat sesuai ketentuan regulator. Hingga akhir 2025, rasio NPF pembiayaan SME tercatat sebesar 0,07 persen.
Dalam pengembangan bisnis SME, Bank Muamalat memfokuskan penyaluran pembiayaan pada sejumlah sektor yang dinilai memiliki prospek dan kualitas portofolio yang baik, yakni pendidikan, haji dan umrah, serta kesehatan.
Pada 2026, Bank Muamalat menargetkan pertumbuhan pembiayaan SME sekitar 30 persen dibandingkan realisasi tahun 2025.
Ricky optimistis target tersebut dapat dicapai melalui strategi penguatan pada ekosistem pendidikan, haji dan umrah, serta kesehatan.
Baca juga: Adu Pengalaman Nasabah: BNI, Bank Muamalat hingga Bank Jateng Jadi yang Terbaik
Untuk mendukung target tersebut, Bank Muamalat juga mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan jaringan bisnis yang dimiliki guna mendorong inovasi dan meningkatkan produktivitas. Di saat yang sama, aspek digitalisasi terus dikembangkan untuk mempercepat dan meningkatkan efektivitas proses pembiayaan.
“Seluruh langkah tersebut dijalankan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, syariah, dan pendekatan humanis sebagai fondasi pengembangan pembiayaan SME. Dukungan terhadap sektor SME ini juga menjadi bagian dari komitmen Bank Muamalat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, mengingat segmen tersebut dinilai memiliki daya tahan yang kuat terhadap gejolak ekonomi,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


