Poin Penting
- Pembiayaan emas syariah Bank Muamalat melonjak lebih dari 11 kali lipat (yoy) jadi Rp1,7 triliun, rekening naik 274 persen
- Kenaikan didorong minat emas sebagai investasi dan perubahan perilaku nasabah ke aset produktif.
- Digitalisasi mempermudah akses, kualitas pembiayaan tetap terjaga (NPL 0 persen).
Jakarta – Kinerja pembiayaan emas syariah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan yang signifikan pada kuartal I 2026. Hal ini tercermin dari outstanding pembiayaan Solusi Emas Hijrah melonjak lebih dari 11 kali lipat secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp1,7 triliun pada akhir Maret 2026. Jumlah rekening nasabah pun meningkat tajam 274% yoy menjadi 12.061 rekening.
“Capaian ini menunjukkan lonjakan minat nasabah terhadap pembiayaan logam mulia emas, khususnya lewat skema cicilan. Dengan permintaan yang tinggi, Bank Muamalat makin agresif dan optimistis pertumbuhan pembiayaan emas syariah bisa mencapai target pada tahun ini,” ujar Ricky Rikardo Mulyadi, Direktur Bank Muamalat dikutip 23 April 2026.
Ia menambahkan, kenaikan yang impresif tersebut didorong oleh sejumlah faktor utama. Salah satunya adalah perubahan perilaku nasabah yang sebelumnya cenderung menyimpan dana, kini mulai mengakumulasi aset produktif termasuk melalui skema angsuran.
Bank Muamalat juga mendapati minat nasabah yang sangat kuat untuk memiliki emas sebagai instrumen investasi sekaligus aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik saat ini.
Baca juga: Pembiayaan Multiguna iB Hijrah Bank Muamalat Tumbuh 37,1 Persen jadi Rp647 Miliar di 2025
Selain tingginya minat, faktor lain yang mendorong pertumbuhan pembiayaan Solusi Emas Hijrah yakni digitalisasi proses pengajuan pembiayaan melalui mobile banking Muamalat DIN yang dinilai lebih cepat, praktis, dan fleksibel. Alhasil, pembiayaan emas semakin inklusif dan mudah diakses oleh nasabah.
Meskipun agresif dalam pertumbuhan, Bank Muamalat tetap menempatkan prinsip kehati-hatian sebagai prioritas utama.
“Kualitas pembiayaan Solusi Emas Hijrah dapat dijaga dengan sangat baik di level nol persen hingga akhir Maret 2026,” kata Ricky.
Prospek Pembiayaan Emas Syariah
Ricky menilai prospek pembiayaan emas syariah ke depan masih sangat menjanjikan. Menurutnya, permintaan emas sebagai aset riil cenderung meningkat, terutama di segmen ritel dan emerging middle class.
Selain itu, penetrasi pembiayaan emas di Indonesia juga masih relatif kecil, sehingga ruang pertumbuhannya masih sangat besar.
Dengan basis nasabah ritel consumer yang besar, Bank Muamalat ingin membangun ekosistem emas yang terintegrasi lewat sejumlah strategi. Di antaranya mendorong digitalisasi pengajuan pembiayaan emas melalui Muamalat DIN.
“Tujuannya agar dapat menjangkau nasabah generasi muda seiring tren transaksi perbankan yang semakin mengandalkan layanan berbasis aplikasi,” ujar Ricky.
Baca juga: Transaksi MADINA Bank Muamalat Tembus Rp48 triliun pada akhir 2025
Bank Muamalat juga melakukan bundling dengan produk pembiayaan haji, KPR iB Hijrah dan Multiguna iB Hijrah, serta penguatan literasi investasi emas syariah kepada nasabah existing maupun masyarakat luas.
Dengan berbagai strategi tersebut, Bank Muamalat memastikan pembiayaan emas syariah tidak akan berdiri sendiri, melainkan bagian dari solusi keuangan yang lebih luas bagi nasabah.
“Kami meyakini pembiayaan Solusi Emas Hijrah tetap menjadi salah satu pilar utama bisnis consumer Bank Muamalat di tengah potensi pasar yang masih sangat besar,” pungkas Ricky. (*)








