News Update

Pembiayaan Berkelanjutan BSI Naik 11,20 Persen Jadi Rp73,9 Triliun di 2025

Poin Penting

  • Penyaluran pembiayaan berkelanjutan BSI capai Rp73,92 triliun, naik 11,2 perse yoy, dengan 79% untuk UMKM dan 21 persen untuk pembiayaan hijau.
  • BSI memperkuat UMKM dari hulu ke hilir melalui pembinaan, BSI UMKM Center, dan kolaborasi dengan kementerian serta komunitas usaha.
  • Menurut BSI integrasi ESG & keuangan syariah butuh literasi, inovasi produk, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat  penyaluran pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp73,92 Triliun di tahun 2025, naik 11,20 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dari jumlah tersebut, sekitar 79 persen didistribusikan pada pembiayaan peningkatan pemberdayaan dan peningkatan kapasitas UMKM dan sisanya atau sekitar 21 persen disalurkan pada pembiayaan hijau, termasuk pembiayaan kendaraan listrik dan sukuk sustainability.  

Secara total, porsi pembiayaan berkelanjutan mencapai 23,18 persen dari portofolio pembiayaan BSI yang tembus Rp319 triliun per Desember 2025.

Wakil Direktur Utama BSI Bob T Ananta mengatakan, UMKM menjadi salah satu fokus perseroan untuk penguatan pembiayaan berkelanjutan. 

Baca juga: Rusun Subsidi Meikarta Dikebut, CBRE Ingatkan Tantangan Implementasi

“Karena segmen ini merupakan grassroot potensial yang harus dibina agar naik kelas dan sustain agar menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional”, jelas Bob, dalam keterangannya, Kamis, 12 Februari 2026.

Bob menambahkan, saat ini BSI  terus memperkuat UMKM dari hulu hingga hilir, dari pembinaan UMKM non-bankable, peningkatan kapasitas usaha yang disiapkan melalui wadah BSI UMKM Center. 

Selanjutnya, BSI juga terus berkolaborasi aktif dengan Kementerian dan Komunitas usaha guna memberikan literasi keuangan agar bisa meningkatkan kompetensi usahanya. 

Baca juga: BRI Salurkan KPR Subsidi Rp16,16 Triliun, Dukung Program 3 Juta Rumah

“Bank syariah punya peran penting dalam pendampingan UMKM agar segmen ini sustain dan meningkat kapasitasnya dan dari sisi bank sejalan dengan kerangka ESG,”ujarnya 

Menurutnya, integrasi ESG dan keuangan syariah memerlukan penguatan literasi, inovasi produk, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

IHSG Dibuka Loyo usai Libur Lebaran, Masih Bertahan di Kisaran 7.000

Poin Penting Pada pembukaan 25 Maret 2026 pukul 09.00 WIB, IHSG turun 0,63 persen ke… Read More

2 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah setelah Libur Lebaran, Masih Dipicu Konflik AS-Iran

Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke level Rp16.916 per dolar AS pada Rabu (25/3), turun… Read More

2 hours ago

IHSG Berpotensi Rebound usai Libur Panjang Lebaran 2026

Poin Penting IHSG secara historis cenderung menguat (technical rebound) setelah libur panjang, didorong kembalinya aliran… Read More

2 hours ago

Cek Harga Emas Pegadaian Rabu 25 Maret 2026: Galeri24 dan UBS Turun, Antam Tetap

Poin Penting Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian turun pada Rabu (25/3), masing-masing menjadi… Read More

2 hours ago

ASLC Kantongi Pendapatan Rp1 Triliun di 2025, Tumbuh 14,5 Persen

Jakarta - PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) mengantongi pendapatan Rp1 triliun di sepanjang 2025… Read More

20 hours ago

Pendapatan Paradise Indonesia Tumbuh 32,9 Persen di 2025, Ini Penopangnya

Jakarta - PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia mencatatkan kinerja positif dengan… Read More

1 day ago