Jakarta–Sejalan dengan arah kebijakan Presiden AS terpilih Donald Trump yang lebih proteksionisme, dikhawatirkan akan berdampak kepada pasar keuangan global. Maka dari itu, pelaku pasar cenderung wait and see terkait dengan 100 hari pemerintahan Trump.
Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Kepala ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada Infobanknews.com, di Jakarta, Jumat, 11 November 2016. Menurutnya, Bursa saham AS ditutup menguat, didorong oleh investor yang mengamati arah dari kebijakan partai Republik tersebut.
“Pelaku pasar cenderung wait and see menunggu 100 hari pemerintahan Trump, terlebih lagi orang-orang yang akan ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menilai, apabila kebijakan-kebijakan yang disampaikan Trump pada saat debat Calon Presiden (Capres) yang lebih berfokus pada ekonomi dalam negeri atau proteksionisme dengan rencana menaikkan bea impor untuk barang Tiongkok, maka akan berisiko pada defisit anggaran AS. (Selanjutnya : Pelonggaran kebijakan fiskal mendorong sell-off pasar obligasi)
Page: 1 2
Poin Penting Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi asuransi umum 2025 hanya naik 4,8% menjadi… Read More
Poin Penting Klaim dibayar asuransi umum 2025 naik 4,1 persen menjadi Rp48,96 miliar; lonjakan tertinggi… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menegaskan dukungan Indonesia terhadap perdamaian berkelanjutan di Palestina dengan solusi… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,03 persen ke 8.271,76. Sebanyak 381 saham terkoreksi, 267 menguat,… Read More
Poin Penting Pendapatan premi asuransi umum sepanjang 2025 naik 4,8% menjadi Rp112,81 miliar. Lini dengan… Read More
Poin Penting Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan kredit perbankan tumbuh sekitar 10 persen… Read More