Jakarta–Sejalan dengan arah kebijakan Presiden AS terpilih Donald Trump yang lebih proteksionisme, dikhawatirkan akan berdampak kepada pasar keuangan global. Maka dari itu, pelaku pasar cenderung wait and see terkait dengan 100 hari pemerintahan Trump.
Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Kepala ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada Infobanknews.com, di Jakarta, Jumat, 11 November 2016. Menurutnya, Bursa saham AS ditutup menguat, didorong oleh investor yang mengamati arah dari kebijakan partai Republik tersebut.
“Pelaku pasar cenderung wait and see menunggu 100 hari pemerintahan Trump, terlebih lagi orang-orang yang akan ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menilai, apabila kebijakan-kebijakan yang disampaikan Trump pada saat debat Calon Presiden (Capres) yang lebih berfokus pada ekonomi dalam negeri atau proteksionisme dengan rencana menaikkan bea impor untuk barang Tiongkok, maka akan berisiko pada defisit anggaran AS. (Selanjutnya : Pelonggaran kebijakan fiskal mendorong sell-off pasar obligasi)
Page: 1 2
Poin Penting BEI memproyeksikan outflow investor asing pada Maret 2026 tidak terlalu deras karena turnover… Read More
Poin Penting KPK menyita aset lebih dari Rp100 miliar terkait penyidikan kasus dugaan korupsi kuota… Read More
Poin Penting Investor asing mencatat net buy Rp905,27 miliar pada perdagangan 12 Maret 2026. Saham… Read More
Poin Penting LPS menargetkan aktivasi Program Penjaminan Polis (PPP) pada 2027, dengan implementasi penuh direncanakan… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka turun 0,18 persen ke Rp16.923 per dolar AS. Lonjakan harga minyak… Read More
Poin Penting Emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak mengalami penurunan pada 13 Maret 2026. Harga… Read More