“Lalu kebijakan fiskal yang longggar dengan memangkas pajak tentunya akan mendorong risiko pelebaran defisit anggaran yang berujung pada kenaikan utang luar negeri pemerintah AS,” ucap Josua.
Sementara terkait dengan rencana Trump untuk memangkas tax ratio cenderung akan mendorong kenaikan inflasi lebih cepat dari perkiraan. Yield US Treasury sudah naik hampir 30 basis poin sejak jelang pengumuman hasil Pilpres lantaran adanya ekspektasi kenaikan inflasi yang lebih cepat dengan kebijakan fiskal yang longgar.
(Baca juga: Membedah Makna Kemenangan Trump)
“Sehingga ini mendorong sell-off di pasar obligasi. Sekarang Yield US Treasury di posisi 2,15%. Dan kemarin yield obligasi ASEAN juga cenderung naik karena kenaikan yield US Treasury,” tutupnya. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting Nobu Bank catat laba Rp481,3 miliar di 2025, tumbuh 46,3% yoy. Kredit naik… Read More
Poin Penting Bank Jambi dan SMF bekerja sama senilai Rp200 miliar untuk memperkuat likuiditas KPR.… Read More
Poin Penting Indonesia dan Korea Selatan meneken kerja sama investasi senilai Rp173 triliun, hasil kunjungan… Read More
Poin Penting Tambahan likuiditas pemerintah memperkuat penyaluran kredit BRI, terutama ke sektor UMKM. BRI tetap… Read More
Poin Penting Budi Herawan kembali terpilih sebagai Ketua AAUI periode 2026–2030 melalui aklamasi, mencerminkan kepercayaan… Read More
Poin Penting DSSA mengintegrasikan bisnis energi berkelanjutan dan infrastruktur digital sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang,… Read More