Perbankan

Pasti Diperpanjang, OJK Kaji Sektor Mana Saja yang Lanjut Restru Kredit

Jakarta – Program restrukturisasi kredit perbankan terkait Covid-19 akan resmi berakhir pada Maret 2023 mendatang. Menjelang akhir program restrukturisasi kredit, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah kredit yang di restrukturisasi pun bergerak melandai. Hal ini mencerminkan, hampir sekitar 40% kredit yang di restrukturisasi kembali sehat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae memastikan perpanjangan restrukturisasi kredit akan dilakukan, namun tidak secara langsung. Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan perpanjangan program ini seperti melihat situasi per sektor usaha yang masih terdampak.

“Diperpanjang sudah pasti akan diperpanjang, tetapi perpanjangan ini tidak dilakukan secara cross the board atau langsung memperpanjang itu, tapi kita akan melihat dari per sektor, kemudian segmentasi pasar, geografis bahkan individu itu pun akan kita cermati untuk memastikan bahwa perpanjangan ini tidak menimbulkan moral hazard yang menimbulkan dampak negatif persepsi kepada negara kita. Karena negara lain dalam konteks ini restrunya sudah di normalisasi,” ujarnya dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa, 6 September 2022.

Regulator hingga saat ini masih mengkaji secara komprehensif sektor mana saja yang akan dapat perpanjangan restrukturisasi. Ia mengaku, pihaknya sangat berhati-hati dalam pembuatan kebijakan perpanjangan restrukturisasi kredit agar tak terjadi moral hazard. Mungkin, lanjutnya, dalam satu bulan ke depan keputusannya sudah keluar dan perpanjangan restru akan bisa diterapkan.

“Memang kalau restru ini kan istilahnya adalah emergency situatuion atau sesuatu yang bisa dikatakan eksepsi. Sehingga pada intinya upaya ini masih dalam konteks kita mengatasi dampak krisis yang ditimbulkan karena covid,” kata Dian.

Baca juga: Restrukturisasi Kredit Perbankan Terus Turun Jadi Rp550 Triliun

Sebagai informasi, merujuk data OJK per Juli 2022, kredit restrukturisasi perbankan yang terdampak Covid-19 bergerak melandai menjadi RpRp560,41 triliun, dibandingkan Juni 2022 yang sebesar Rp576,17 triliun. Jumlah debitur yang di restrukturisasi juga menunjukan penurunan menjadi 2,94 juta debitur per Juli 2022.(*) Bagus Kasanjanu

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

30 mins ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

1 hour ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

2 hours ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

2 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

3 hours ago

Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Jumbo Rp980 Miliar, Ini Jadwal Pembayarannya

Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More

3 hours ago