Poin Penting
- Harga minyak dunia melonjak setelah penutupan jalur pelayaran energi di Selat Hormuz; Brent sempat naik 3 persen hingga di atas USD106 per barel
- AS membangun koalisi internasional untuk membuka kembali jalur strategis tersebut, namun respons sejumlah negara masih terbatas
- Gangguan pasokan energi global meningkat, karena sekitar 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz dan aktivitas pelayaran turun drastis sejak konflik.
Jakarta – Harga minyak dunia kian melonjak seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan belum adanya kepastian pembukaan kembali jalur pelayaran energi di Selat Hormuz.
Pasar juga merespons upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membangun koalisi internasional untuk mengamankan jalur strategis tersebut, meski respons dari sejumlah negara masih terbatas.
Diketahui, harga minyak mentah Brent crude oil, sempat melonjak hingga 3 persen pada Minggu (15/3) dan menembus lebih dari 106 dolar AS per barel. Pada perdagangan Senin pagi (16/3), harga Brent berada di kisaran 104,63 dolar AS per barel atau naik sekitar 1,5 persen.
“Kenaikan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz ditutup oleh Iran sebagai respons atas serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel,” tulis laporan Al Jazeera, Senin, 16 Maret 2026.
Baca juga: Geopolitik dan Harga Minyak Bayangi Ekonomi 2026, Permata Bank Lakukan Strategi Ini
Upaya AS Membangun Koalisi
Di lain sisi, pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump berupaya mencari dukungan negara lain untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Trump diketahui meminta sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Jepang, Prancis, dan Inggris, untuk membantu Washington mengamankan selat yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump memperingatkan bahwa NATO dapat menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika usulan tersebut tidak mendapat respons atau bahkan ditolak.
“Namun sejauh ini, respons negara-negara yang disebutkan Trump cenderung hati-hati. Jepang dan Australia pada Senin menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengirim kapal militer ke kawasan tersebut,” tulis laporan tersebut.
Jalur Energi Global Terganggu
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati jalur ini setiap hari.
Menurut International Energy Agency (IEA), penutupan jalur tersebut telah memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Data dari UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menunjukkan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut turun drastis sejak konflik pecah.
Saat ini, tidak lebih dari lima kapal yang melintasi selat tersebut setiap hari, jauh di bawah rata-rata historis sekitar 138 transit per hari.
Selain itu, setidaknya 16 kapal komersial dilaporkan diserang di kawasan tersebut sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Baca juga: Airlangga Beberkan Skenario Dampak Lonjakan Harga Minyak, Defisit APBN Bisa Tembus 4 Persen
Harga Energi Melonjak
Sejak perang pecah, harga minyak global telah melonjak lebih dari 40 persen. Lonjakan ini mulai berdampak pada kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara serta memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan siap mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz jika diperlukan.
Namun pejabat pemerintahan Trump mengatakan pengerahan tersebut kemungkinan baru dilakukan setelah kemampuan militer Iran melemah.
Meski demikian, mereka memperkirakan operasi pengamanan jalur pelayaran itu dapat dimulai dalam waktu dekat. (*)
Editor: Galih Pratama










