Poin Penting
- Pasar properti masih dibayangi tekanan global dan domestik, mulai dari konflik geopolitik, inflasi, hingga pelemahan IHSG dan daya beli masyarakat
- Pinhome optimistis sektor properti berpeluang pulih pada 2026, didukung stabilisasi ekonomi dan sentimen pasar yang membaik
- Permintaan rumah menguat di daerah, seperti Palembang (+24 persen), Pekanbaru (+23 persen), serta lonjakan di wilayah hilirisasi seperti Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.
Jakarta – Platform layanan properti Pinhome menilai pasar properti nasional masih dibayangi sejumlah dinamika global. Mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dan inflasi, perang Rusia–Ukraina yang berdampak pada sektor energi, hingga ketegangan Amerika Serikat–China yang menekan rantai pasok dan arus investasi global.
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan tantangan domestik juga turut memberi tekanan. Fluktuasi pasar tenaga kerja, daya beli masyarakat yang tertekan, serta volatilitas pasar keuangan yang tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal tahun. Ini menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku industri.
Meski demikian, kata Dayu, Pinhome tetap optimistis peluang pemulihan terbuka pada 2026. Dengan potensi stabilisasi ekonomi dan perbaikan sentimen pasar, sektor properti diyakini kembali menemukan momentum pertumbuhan.
Baca juga: Penyaluran KPR 2026 Diprediksi Tumbuh hingga 11 Persen, Ini Pendorongnya
Permintaan Rumah Meningkat
Optimisme tersebut diperkuat oleh resiliensi pasar regional, terutama di Sumatera. Indeks permintaan rumah tercatat meningkat signifikan di Palembang sebesar 24 persen dan Pekanbaru 23 persen pada Desember 2025 dibanding bulan sebelumnya, menandakan pemulihan cepat di kota-kota utama pascabencana.
“Pembangunan infrastruktur juga diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan properti. Salah satunya operasional Kereta Cepat Whoosh mendorong lonjakan minat di Bandung Timur dengan pencarian di Cileunyi naik 18 persen dan Rancaekek melonjak 31 persen pada semester II tahun 2025 dibandingkan dengan semester II tahun 2024,” ucap Dara dalam paparannya dikutip, 13 Februari 2026.
Dara menambahkan, kenaikan tersebut turut didorong progres pembangunan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci).
Baca juga: KPR BTN Tumbuh Double Digit, KPP dan BSN jadi Penopang Ekspansi 2025
Di luar Pulau Jawa, pertumbuhan pasar properti juga tercermin dari percepatan kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Maluku Utara mencatat kenaikan pencarian rumah tertinggi sebesar 11 persen, disusul Sulawesi Tengah 8 persen secara semesteran. Tren ini sejalan dengan ekspansi industri pengolahan nikel di Morowali, Halmahera Tengah, dan Pulau Obi.
“Tren ini menunjukkan munculnya pusat pertumbuhan properti baru yang tidak lagi bergantung pada kota-kota besar tradisional,” imbuhnya. (*)










