Ilustrasi: Pergerakan pasar saham. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) melihat bahwa koreksi pasar saham yang terjadi saat ini merupakan fenomena yang sehat dan justru menciptakan peluang bagi investor. Meski tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya, optimisme terhadap pemulihan pasar tetap terjaga.
Consumer Funding & Wealth Business Head Danamon, Ivan Jaya menyebut bahwa kondisi saat ini menyerupai periode koreksi ketika pandemi COVID-19, yang pada akhirnya membuka peluang bagi investor untuk masuk ke pasar dengan valuasi yang lebih menarik.
“Kalau kita lihat harga saham sekarang, ini seperti beli Mercy dengan harga Bajaj. Ini merupakan saat-saat yang seperti itu,” ujarnya saat ditemui usai acara peluncuran produk asuransi Proteksi Prima Kritis Andalan (PPKA) di Jakarta, kemarin.
Baca juga: Analis: Ramainya Aksi Buyback Saham Diharapkan Kurangi Volatilitas
Menurut Ivan, kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil meskipun menghadapi turbulensi di level makro dan mikro.
“Kami menyebut ini sebagai koreksi yang sehat. Kalau melihat aksi jual saham, saya rasa sentimennya sudah mulai mereda. Masih ada sedikit tekanan, tapi sudah lumayan bottoming,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam seminggu terakhir, pasar telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan rebound hampir mencapai 6 persen.
Baca juga: Bos SMBC Indonesia: Gejolak Saham Perbankan Dipicu Persepsi Pasar
“Kalau rebound saya rasa akan bertahap. Justru ini yang harusnya bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.
Dengan kondisi ini, Danamon optimistis bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki prospek cerah ke depan. Koreksi yang terjadi bukanlah indikasi krisis besar, melainkan bagian dari siklus pasar yang sehat. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Askrindo menjalin kerja sama dengan Pemkab Bone untuk penjaminan suretyship dan asuransi umum… Read More
Poin Penting BRI Life dan RS Awal Bros Group meresmikan fasilitas rawat inap premium The… Read More
Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More
Poin Penting Status Indonesia tetap di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell dan tidak… Read More
Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.035 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS. Sentimen… Read More