Optimalisasi DPK Jadi Strategi Bank dalam Menjaga Daya Saing di 2026

Optimalisasi DPK Jadi Strategi Bank dalam Menjaga Daya Saing di 2026

Poin Penting

  • Pemangkasan suku bunga 125 bps sepanjang 2025 menjadi 4,75 persen diperkirakan mulai berdampak nyata di 2026
  • Fokus peningkatan dana murah (CASA) dinilai mampu menekan cost of fund sehingga NIM tetap terjaga, sekaligus memperkuat daya saing bank, khususnya di tengah persaingan likuiditas
  • Bank Woori Saudara memanfaatkan momentum suku bunga rendah dengan memperkuat bauran produk tabungan ritel dan korporasi.

Jakarta – Transmisi kebijakan moneter yang akomodatif bisa menjadi momentum baik bagi perbankan di tahun 2026. Sebab, suku bunga yang sudah dipangkas 125 basis poin (bps) sepanjang 2025 menjadi 4,75 persen akan mulai terlihat dampaknya di 2026.

“Ada lag transmisi kebijakan yang umum terjadi. Namun dampak di 2026 akan mulai terasa. Era suku bunga yang lebih rendah bisa jadi momentum perbankan untuk optimalkan struktur DPK dengan fokus pada growth dan juga menarik likuiditas murah,” ujar Leonardo Lijuwardi dari NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam keterangannnya, Kamis (5/2).

Apa yang dimaksud sebagai likuiditas murah oleh Leonardo adalah proporsi tabungan dan giro dalam DPK atau yang sering disebut sebagai Current Account Saving Account (CASA). Ia menilai, dalam konteks perbankan, struktur CASA atau dana murah masih dapat dioptimalkan di 2026.

“Fokus bank juga diarahkan perbaikan struktur funding. Peningkatan CASA dapat menurunkan cost of fund sehingga NIM perbankan masih dapat terjaga,” tambahnya.

Salah satu bank yang memanfaatkan momentum ini adalah PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS). BWS berupaya menggenjot daya saing di tahun 2026 melalui optimalisasi portofolio penghimpunan dana. Bank asal Korea Selatan tersebut fokus menggarap bauran produk funding yang inovatif untuk mendongkrak Dana Pihak Ketiga (DPK).

Baca juga: DPK Perbankan Naik Dua Digit, BI: Capai Rp9.467 Triliun per Desember 2025

Bank yang masuk kelompok KBMI II dengan modal inti sebesar Rp11,7 triliun tersebut tercatat memiliki DPK sebesar Rp34,5 triliun per November 2025. Komposisinya terdiri dari giro sebesar Rp3,9 triliun dan tabungan sebesar Rp4,0 triliun serta deposito Rp26,6 triliun.

Untuk mendorong pertumbuhan DPK, BWS fokus memperkuat bauran produk yang dimiliki baik untuk segmen individu maupun segmen korporasi. Pada segmen individu atau ritel, BWS memiliki 7 produk tabungan yang menyasar berbagai segmen.

Produk tabungan BWS meliputi Tabungan Woori Saudara, Tabungan Premium, Tabungan Cerdas, Tabungan K-Pop, Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel), TabunganKu, dan Tabungan WiGo yang fokus pada ekspatriat asal Negeri Ginseng.

Selain tabungan, BWS juga memiliki produk Tabungan Berjangka yang selanjutnya dinamai sebagai Taska. Terdapat tiga produk utama yaitu Taskasure yang menggabungkan tabungan berjangka dengan asuransi jiwa.

Selanjutnya ada Taska Gift yang merupakan produk tabungan berjangka rupiah yang memberikan keuntungan kepada nasabah berupa hadiah dan ada juga Taska Impian yang menawarkan suku bunga kompetitif.

Baca juga: Bank KBMI 3 di Antara Goliath dan David, Jalan Tengah yang Paling Diuji

Sementara untuk segmen korporasi, BWS menyediakan berbagai produk dan layanan mulai dari tabungan, installment, giro hingga deposito. Memasuki tahun 2026, BWS akan terus mengoptimalkan strategi bauran produk funding tersebut.  

Menurut Leonardo, apabila bauran produk dijalankan dengan baik dan optimal akan menjadi katalis positif pertumbuhan DPK yang ditopang oleh dana murah. “Jika optimal, struktur CASA akan lebih baik dan mendongkrak daya saing bank di segmen KBMI II,” pungkasnya. (*) DW

Related Posts

News Update

Netizen +62