Poin Penting
- OJK melihat gangguan pasokan BBM sebagai peluang percepatan adopsi kendaraan listrik.
- Multifinance berpotensi memperluas pembiayaan ke sektor kendaraan listrik dan energi hijau.
- Pembiayaan kendaraan listrik tumbuh 39,35% yoy menjadi Rp21,94 triliun per Februari 2026.
Jakarta – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan bahan bakar minyak (BBM) dinilai dapat menjadi katalis percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang kondisi ini sebagai peluang bagi industri pembiayaan (multifinance) untuk memperluas portofolio ke sektor pembiayaan hijau.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK, Agusman, mengatakan dinamika global tersebut perlu dicermati secara hati-hati, namun juga membuka ruang pertumbuhan baru.
“Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan BBM perlu dicermati sebagai peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia,” ujar Agusman, dalam keterangannya, Senin, 20 April 2026.
Baca juga: Pembiayaan Multifinance 2025 Lesu, OJK Ungkap Biang Keroknya
Menurutnya, meningkatnya ketidakpastian pasokan dan harga BBM dapat mendorong masyarakat mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan, termasuk kendaraan listrik.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan pembiayaan dari perusahaan multifinance.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaku industri pembiayaan tetap akan mencermati perkembangan kondisi global dan domestik sebelum melakukan ekspansi secara agresif.
“Multifinance pada prinsipnya akan tetap mencermati kondisi yang terjadi, baik dari sisi risiko maupun daya beli masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: Industri Multifinance Salurkan Pembiayaan Rp508,27 Triliun per Januari 2026
Dari sisi kinerja, pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga Februari 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik tercatat tumbuh 39,35 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp21,94 triliun.
Berdasarkan data OJK, Pembiayaan tersebut masih didominasi oleh kendaraan roda empat listrik dan hybrid yang mencapai 83,52 persen atau setara Rp18,32 triliun. Sisanya berasal dari pembiayaan kendaraan roda dua listrik.
OJK menilai tren ini mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, seiring berbagai insentif pemerintah dan meningkatnya kesadaran akan efisiensi energi. (*)
Editor: Yulian Saputra








