News Update

OJK Nilai Aturan Batas Bunga Tak Lemahkan Industri Pindar, Ini Buktinya

Jakarta – Penetapan batas maksimum bunga harian fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) ternyata tidak menghambat pertumbuhan industri pembiayaan berbasis teknologi ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengatakan, sejak pengaturan bunga maksimum pindar diterapkan pada 2023, pertumbuhan pendanaan pindar justru meningkat.

“Malah terus naik sejak 2023, tidak melambat. Jadi artinya ‘not big deal’ bagi mereka. Jadi kita tetap optimis,” kata Agusman, dinukil ANTARA, Rabu, 23 Juli 2025.

Baca juga: TWP90 Pindar di Atas 5 Persen Masih Salurkan Pendanaan Baru? Ini Penjelasan OJK

Agusman mengungkapkan, pertumbuhan pendanaan pindar pada 2023 masih di bawah 20 persen. Angka tersebut naik menjadi lebih dari 20 persen pada 2024, dan mencapai 27,9 persen pada Mei 2025, dengan total pendanaan sebesar Rp82,5 triliun.

Sebagai informasi, aturan batas maksimum bunga pindar tercantum dalam Surat Edaran OJK Nomor 19/SEOJK.05/2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi. Aturan ini mengatur penurunan bunga harian sektor konsumtif menjadi 0,3 persen mulai 2024 dan kembali turun menjadi 0,2 persen per hari sejak 1 Januari 2025.

“Jadi kalau boleh disampaikan, ini tidak membuat mereka lemah, tidak ingin men-discourage,” ujarnya.

Baca juga: Kinerja KPPU Semester I 2025: Kasus Kartel Bunga Pindar dan Akuisisi Tokopedia Jadi yang Terbesar

OJK menegaskan bahwa kebijakan pembatasan bunga ditujukan untuk menata industri dan memberi perlindungan bagi konsumen. Jika tidak diatur, bunga pindar bisa menjadi tidak terkendali.

“Kalau tidak diatur, limitnya bisa langit,” ujarnya lagi.

Penuhi Ekuitas Minimum

Simak Liputan Khusus Tim Infobanknews dalam artikel berjudul “Mengakselerasi Pertumbuhan dan Daya Saing Perbankan Syariah“. (Ilustrasi: Muhammad Zulfikar)

Selain batas bunga, OJK juga memperkuat aspek kesehatan penyelenggara pindar. Salah satunya adalah kewajiban pemenuhan ekuitas minimum sebesar Rp12,5 miliar.

Saat ini, 12 dari total 96 penyelenggara tercatat belum memenuhi ketentuan tersebut. Namun, semuanya telah menyampaikan surat komitmen dan action plan kepada OJK.

“Seluruh (12) penyelenggara telah menyampaikan surat komitmen dan action plan untuk memenuhi ekuitas minimum,” ujar dia.

Baca juga: OJK Terbitkan POJK 16/2025, Atur Penilaian Pelaku Keuangan Digital dan Kripto

Per Mei 2025, salah satu parameter kesehatan penyelenggara industri pindar yakni Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) tercatat 3,19 persen, atau belum melampaui batas toleransi 5 persen. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

IHSG Berpeluang Menguat, Analis Rekomendasikan Saham BBRI, ARCI hingga BUVA

Poin Penting IHSG berpeluang menguat untuk menguji level 9.030–9.077, namun investor diminta waspada potensi koreksi… Read More

55 mins ago

Update Harga Emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian Senin, 12 Januari 2026

Jakarta – Harga emas untuk produk Galeri24 dan UBS yang diperdagangkan pada Senin, 12 Januari 2026 di… Read More

1 hour ago

Catatan HUT ke-47 Infobank: Lazy Bank, Kriminalisasi Kredit Macet, dan Ujian Akhir Disiplin Fiskal

Oleh Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut para… Read More

5 hours ago

Rebranding Produk Tabungan BTN Pos, BTN Bidik Dana Murah Rp5 Triliun

Poin Penting BTN rebranding e’Batarapos menjadi Tabungan BTN Pos sebagai langkah strategis memperluas inklusi keuangan… Read More

14 hours ago

Aliran Modal Asing Masuk RI Rp1,44 Triliun pada Awal 2026

Poin Penting Aliran modal asing masuk Rp1,44 triliun di awal Januari 2026, mayoritas mengalir ke… Read More

21 hours ago

KPK Tetapkan 5 Tersangka Terkait OTT Dugaan Suap Pajak di KPP Madya Jakut

Poin Penting KPK tetapkan 5 tersangka OTT dugaan suap pajak KPP Madya Jakarta Utara. 3… Read More

22 hours ago