Poin Penting
- OJK catat kredit tumbuh 9,96 persen yoy menjadi Rp8.557 triliun, dengan kredit investasi naik tertinggi 22,38 persen, kredit konsumsi 6,58 persen, dan modal kerja 4,13 persen
- Dari sisi funding, DPK naik 13,48 persen yoy menjadi Rp10.076 triliun; rasio AL/NCD 121,23 persen dan LCR 197,92 persen, menunjukkan likuiditas memadai.
- Kualitas aset terjaga dengan NPL gross 2,14 persen, NPL net 0,82 persen, RoA 2,49 persen, dan CAR 25,87 persen.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada Januari 2026 kredit perbankan tumbuh sebesar 9,96 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau menjadi Rp8.557 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 9,63 persen yoy.
“Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai. Pada Januari 2026 kredit tumbuh sebesar 9,96 persen yoy,” kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, dalam Konferensi Pers RDK, Selasa, 3 Maret 2026.
Dian merinci, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per Januari 2026 tumbuh paling tinggi sebesar 22,38 persen, diikuti dengan kredit konsumsi 6,58 persen, dan kredit modal kerja 4,13 persen.
Baca juga: OJK Minta LJK Waspadai Dampak Geopolitik Timur Tengah
Kemudian, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 16,07 persen. Sementara, bila ditinjau berdasarkan kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh sebesar 13,43 persen.
Dari sisi funding, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh sebesar 13,48 persen yoy menjadi Rp10.076 triliun, menurun tipis dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh sebesar 13,83 persen.
“Dengan giro, deposito, dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 19,75 persen, 12,61 persen, dan 8,27 persen yoy,” jelasnya.
Sementara itu, likuiditas industri perbankan pada Januari 2026 tetap memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 121,23 dan 27,54 persen.
“Masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 197,92 persen,” jelasnya.
Baca juga: Kinerja Himbara Turun, OJK Sebut Faktor Siklikal dan Berpotensi Rebound
Lebih lanjut, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,14 persen dan NPL net sebesar 0,82 persen.
Kemudian, untuk loan at risk (LAR) sebesar 9,01 persen. Secara umum, tingkat profitabilitas bank atau RoA sebesar 2,49 persen.
Adapun ketahanan perbankan Indonesia pada Januari 2026 tetap kuat. Ini tercermin dari permodalan (CAR) perbankan yang tinggi sebesar 25,87 persen.
“Ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat di tengah kondisi ketidakpastian global dewasa ini,” pungkas Dian. (*)
Editor: Galih Pratama










