OJK: Kinerja Pasar Modal Masih Tumbuh Positif di Tengah Gejolak Global

OJK: Kinerja Pasar Modal Masih Tumbuh Positif di Tengah Gejolak Global

Investasi
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Masih adanya fluktuasi dalam kinerja pasar modal sepanjang tahun 2022, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamati bahwa kinerja pasar modal masih menunjukan pertumbuhan yang positif secara year to date.

Kepala Eksekutif Bidang Pasar Modal, Inarno Djajadi mengatakan bahwa per 28 Desember 2022 ini indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di posisi 6.850,52 poin atau secara year to date tumbuh sebesar 4,09%.

“Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp9.509 triliun atau secara year to date tumbuh sebesar 15,18%. Di tahun 2022 ini, tepatnya pada tanggal 27 Desember 2022, kapitalisasi pasar di Bursa Efek juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu sebesar Rp9.600 Triliun,” ucap Inarno di Jakarta, 29 Desember 2022.

Kinerja IHSG tersebut juga merupakan yang tertinggi kedua setelah Singapura jika dibandingkan dengan seluruh kinerja bursa ASEAN, setelah sebelumnya IHSG juga pernah berada di tingkat pertama di kawasan ASEAN dan Regional, serta peringkat ke-3 di dunia pada November lalu.

Dari sisi perkembangan pasar modal syariah, turut mengalami peningkatan per 28 Desember 2022 yang tercatat pada indeks saham syariah Indonesia (ISSI) ditutup pada 218,38 poin atau meningkat 15,53%, dibandingkan posisi per 30 Desember 2021 sebesar 189,02 poin.

“Sementara kapitalisasi pasarnya tercatat sebesar Rp4.801,27 triliun atau meningkat sebesar 20,52% ytd apabila dibandingkan posisi per 30 Desember 2021yaitu sebesar Rp3.983,65 triliun,” imbuhnya.

OJK juga mencatat pertumbuhan investor pasar modal hingga per Desember 2022 telah menembus 10,3 juta SID, dimana pertumbuhan jumlah investor tersebut meningkat 10 kali lipat dibandingkan lima tahun terakhir.

Meski begitu, kinerja reksa dana masih mengalami penurunan, akibat beberapa faktor, terutama terkait kebijakan shifting unit link ke instrumen keuangan lain di luar reksa dana. Sehingga, per 27 Desember 2022 total NAB Reksa Dana secara ytd menurun 12,58% dari Rp578,44 triliun per 30 Desember 2021 menjadi Rp505,69 triliun.

“Sementara itu, jumlah produk Reksa Dana per 28 Desember 2022 turut mengalami penurunan dari sebelumnya pada 30 Desember 2021 sebesar 2.198 menjadi 2.143 atau turun sebesar 2,50%,” ujar Inarno.

Penurunan NAB Reksa Dana tersebut tentunya juga berdampak pada nilai keseluruhan dari Asset Under Management (AUM), dimana per 27 Desember 2022 nilai AUM tercatat turun sebesar 2,49% dari sebelumnya sebesar Rp850,73 triliun menjadi Rp829,56 triliun.

“Kami selaku regulator di bidang Pasar Modal berharap capaian kinerja Pasar Modal sepanjang tahun ini dapat menjadi modal awal untuk meningkatkan semangat dan optimisme kita bersama dalam mewujudkan Indonesia sebagai tempat berinvestasi yang aman, nyaman, dan terpercaya,” tutupnya. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]