OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen

OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen

Poin Penting

  • OJK dan Kemenkeu berkoordinasi menurunkan bunga kredit melalui penempatan dana pemerintah dan pengendalian kebijakan special rate.
  • Bunga kredit perbankan sudah turun ke sekitar 8% dari sebelumnya di atas 9% dan ditargetkan turun lebih lanjut untuk mendorong permintaan pinjaman.
  • Penurunan bunga kredit konsumsi lebih sulit karena risiko lebih tinggi, sehingga penguatan manajemen risiko perbankan menjadi kunci.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu), menyiapkan strategi untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan agar lebih terjangkau bagi masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan bunga kredit perbankan telah turun ke kisaran 8 persen dari sebelumnya di atas 9 persen. Penurunan tersebut akan terus didorong melalui sejumlah kebijakan, termasuk penempatan dana pemerintah di bank Himbara serta pengendalian kebijakan special rate.

“Misalnya katakanlah SAL ini tetap stay di sana. Lalu, sekarang Menteri Keuangan bicara dengan kita bahwa dia tak akan meng-encourage special rate. Lembaga pemerintah atau BUMN yang melakukan negosiasi itu sekarang juga disuruh ditekan,” kata Dian saat ditemui pasca acara The 2nd Indonesia Climate Banking Forum di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Baca juga: Lagi, BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit, Begini Tanggapan BCA

Dian menjelaskan, penurunan bunga kredit akan menekan biaya pinjaman sehingga kredit menjadi lebih terjangkau. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit dari masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Bila bunga kredit ke nasabah itu turun, tentu ini akan meng-encourage orang untuk melakukan pinjaman, entah untuk konsumsi dan lainnya. Sehingga, perekonomian bakal semakin menggeliat. Intinya begitu,” jelas Dian.

Selain menguntungkan debitur, penurunan bunga kredit juga berpotensi meningkatkan penyaluran kredit perbankan karena permintaan yang lebih tinggi.

Kredit Konsumsi Sulit Turun

Meski demikian, Dian mengakui penurunan bunga kredit konsumsi relatif lebih sulit karena karakteristik risiko yang berbeda, termasuk tenor pendek dan tingkat perputaran yang tinggi.

“Terkadang itu bagian lifestyle juga. Kenapa orang menggunakan kartu kredit atau BNPL, dalam konteks konsumsi, ya itu lifestyle saja. Saya punya uang sebetulnya bisa dilunasin, tapi gak usah sekarang, tunggu gajian tanggal sekian. Ada pula yang dibayar lunas, ada yang tidak,” sebutnya.

Baca juga: Mirae Asset Optimistis Kredit Bank Tumbuh 11 Persen di 2026, Ini Pendorongnya

Karena bagian dari lifestyle, ia melihat hal itu biasa dilakukan oleh masyarakat. Oleh karenanya, ia menegaskan, sebagai satu-satunya solusi terkait hal ini ialah penguatan manajemen risiko di pihak perbankan atau lembaga keuangan.

“Kalau bank yang namanya digital misalnya, wajar-wajar saja gitu kan, karena dia konsumsi lebih banyak, bukan investasi. Jadi, tentu itu adalah bagaimana manajemen risiko ya,” tandas Dian. (*) Steven Widjaja

Related Posts

News Update

Netizen +62