Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset industri asuransi pada Maret 2025 mencapai Rp1.145,63 triliun atau meningkat 1,49 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dari tahun sebelumnya di Rp1.128,86 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, merinci dari sektor asuransi komersil, total asetnya mencapai Rp925,37 triliun atau naik 1,80 persen yoy. Hanya saja, pendapatan premi asuransi komersil pada periode Januari hingga Maret 2025, turun 0,06 persen yoy menjadi Rp87,71 persen.
Baca juga: OJK Catat Kepemilikan SBN Sektor Perbankan Tembus Rp1.112,88 Triliun di Maret 2025
Penurunan pendapatan premi juga terjadi pada asuransi umum dan reasuransi yang terkontraksi 3,50 persen menjadi Rp40,52 triliun. Kenaikan pendapatan premi terjadi pada asuransi umum yang tumbuh 3,08 persen yoy menjadi Rp47,19 triliun.
Ogi menjelaskan, kinerja tersebut didukung dengan permodalan yang solid dengan industri asuransi jiwa, serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat melaporkan tingkat Risk Based Capital (RBC) yang masing-masing pada posisi 467,73 persen dan 316,96 persen di atas threshold 120 persen.
“Di sisi asuransi non komersil yang terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, serta program asuransi ASN, TNI, dan Polri terkait program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian total aset tercatat sebesar Rp220,26 triliun, atau tumbuh sebesar 0,20 persen yoy,” kata Ogi dalam konferensi pers RDKB, 9 Mei 2025..
Baca juga: OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Perang Tarif Trump
Sementara, dari sisi industri dana pensiun total aset per Maret 2025 tumbuh sebesar 6,15 persen yoy dengan nilai mencapai Rp1.524,92 triliun. Di mana untuk program pensiun sukarela, total aset mencatat pertumbuhan sebesar 2,43 persen yoy dengan nilai mencapai Rp383,13 triliun.
Adapun, untuk total aset program pensiun wajib mencapai Rp1.141,79 triliun atau tumbuh sebesar 7,46 persen yoy. Sedangkan pada perusahaan penjaminan pada Maret 2025 nilai aset masih terkontraksi sebesar 0,52 persen yoy menjadi Rp47,12 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More
Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More
Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More
Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More
Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More