Poin Penting
- Hanya 24,3 persen penyandang disabilitas yang memiliki rekening bank pada 2025.
- OJK menilai peningkatan akses keuangan harus diiringi penguatan literasi keuangan yang inklusif.
- HSBC Indonesia dan PJI meluncurkan program edukasi keuangan bagi 1.700 pelajar, termasuk penyandang disabilitas.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, tingkat akses layanan keuangan bagi penyandang disabilitas di Tanah Air masih relatif rendah. Sepanjang 2025, hanya sekitar 24,3 persen penyandang disabilitas berusia 15 tahun ke atas yang memiliki rekening bank. Angka ini masih jauh di bawah kelompok non-disabilitas yang mencapai 47 persen.
Asisten Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Chandra Shadiq Faritzi, mengungkapkan, peningkatan akses keuangan wajib diimbangi dengan penguatan literasi keuangan inklusif agar seluruh lapisan masyarakat bisa memanfaatkan layanan keuangan secara optimal.
“Peningkatan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi keuangan yang setara bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” kata Chandra, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, OJK pun telah menerbitkan Pedoman Akses Pelayanan Keuangan untuk Disabilitas Berdaya (SETARA) pada awal 2025, sebagai panduan bagi pelaku industri jasa keuangan dalam menerapkan layanan keuangan lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Sejalan dengan itu, OJK telah meluncurkan Buku Pedoman Literasi Keuangan Bagi Penyandang Disabilitas pada Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional.
Baca juga: Bank BSN Garap Ekosistem Muhammadiyah, Bidik Jutaan Anggota dan Amal Usaha
Berdasarkan data OJK, pada 2025, tingkat literasi keuangan pelajar mencapai 61,76 persen, naik dari 56,42 persen pada tahun sebelumnya.
Namun, lonjakan tersebut masih berada di bawah laju inklusi keuangan yang melonjak dari 69 persen menjadi 84,42 persen, pada periode tahun yang sama.
“Kesenjangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum selalu diiringi dengan kemampuan mengelola keuangan secara sehat dan bertanggung jawab,” tandasnya.
HSBC dan PJI Dorong Edukasi Keuangan Inklusif
Guna mendukung peningkatan literasi keuangan di Indonesia, HSBC Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) meluncurkan program Financial Empowerment Pathways 2026.
Program ini membidik 1.700 pelajar dari berbagai latar belakang, termasuk siswa penyandang disabilitas, pelajar sekolah menengah pertama, dan mahasiswa.
Baca juga: BTN dan UNAIR Jalin Kemitraan Strategis, Soroti Tingginya Stres Finansial Gen Z
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengatakan generasi muda membutuhkan pengalaman praktis dalam mengelola keuangan, bukan semata pemahaman teori.
Menurutnya, kemampuan mengambil keputusan finansial yang tepat perlu dibangun sejak usia dini melalui pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Mereka membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teori—mereka perlu membangun kebiasaan dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan finansial yang sehat,” ujarnya.
Sejak 2008, HSBC Indonesia dan PJI telah menjalankan berbagai program edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 51.400 pelajar di Indonesia.
Sementara itu, Dewan Nasional Prestasi Junior Indonesia, Natalia Soebagjo, menambahkan, generasi muda Indonesia saat ini tidak kekurangan akses terhadap uang atau teknologi, tetapi sering kali kekurangan ruang untuk belajar mengambil keputusan finansial secara aman dan bertanggung jawab.
“Karena itu, literasi keuangan perlu dipelajari melalui pengalaman, bukan sekadar teori. Keputusan membeli, menabung, mengatur prioritas merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dilatih sejak dini agar menjadi kebiasaan finansial yang sehat,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


