Ekonomi dan Bisnis

Nilai Ekspor Manufaktur 70,81%, Kebijakan Hilirisasi Masih Hadapi Tantangan

Jakarta – Kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional hingga saat ini telah mencapai 16,1%, di samping itu nilai ekspor manufaktur juga mencatatkan nilai yang baik sebesar 70,81% dari total ekspor nasional.

Meski begitu, Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa dalam mendorong kebijakan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah yang tepat masih menghadapi tantangan.

“Pertama challengenya adalah sumber daya manusia, tentu yang kompeten yang mempunyai kapasitas dan juga kapabilitas dan bisa saya sampaikan bahwa setiap tahun, ini dibutuhkan at least 600 ribu tenaga kerja baru untuk mengisi sektor manufaktur, termasuk di dalamnya adalah hilirisasi,” ucap Agus dalam panel diskusi pada Outlook Perekonomian Indonesia 2023 di Jakarta, 21 Desember 2022.

Kemudian, tantangan yang kedua adalah terkait dengan perluasan kerja sama internasional dalam membuka pasar ekspor baru, dimana dalam hal ini, Indonesia memiliki dua target pasar yang besar, yaitu Eropa dan Afrika.

“Oleh sebab itu, pemerintah sekarang sedang membahas mengenai kepentingan kita segera menyelesaikan perjanjian IU-CEPA (perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa) yang tentu membawa manfaat yang sangat besar di kedua belah pihak,” imbuhnya.

Nantinya, bagi industri manufaktur sendiri akan diuntungkan melalui proses pengiriman barang-barang ekspor yang akan lebih mudah dikirim ke negara-negara besar di Eropa dan Afrika sebagai non-tradisional market.

Lalu, tantangan yang ketiga terkait insentif, dimana Indonesia harus memiliki kesan baik untuk investor dan pasar, sehingga nantinya dapat melakukan bench marking terhadap negara-negara lain dan kebijakan-kebijakannya untuk mendorong pertumbuhan sektor manufaktur.

“Yang keempat, challengenya yaitu tekanan dari international trade dan diplomasi, nikel contohnya bahwa kita digugat di WTO dan kita kalah, sekarang kita sedang melakukan banding,” ujar Agus.

Namun, hal tersebut tidak menghalangi kebijakan hilirisasi nikel Indonesia, bahkan Indonesia nantinya juga akan melakukan pelarangan ekspor bauksit.

Adapun, hilirisasi tersebut menjadi poin penting karena selain menciptakan nilai tambah di dalam negeri tetapi juga akan menarik investasi, serta mampu menciptakan lapangan tenaga kerja. (*)

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

2 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

5 hours ago

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

11 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

11 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

12 hours ago

Dorong Inklusi Investasi Saham, OCBC Sekuritas dan Makmur Sepakati Kerja Sama Strategis

Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More

14 hours ago