Poin Penting
- MSIG Indonesia menggelar Biodiversity Fun Class 2026 untuk mengedukasi 109 siswa di Bogor mengenai pemilahan sampah dan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati
- Studi UCLA yang dirujuk dalam materi BDFC 2026 memperkirakan TPST Bantar Gebang melepaskan sekitar 55.000 ton metana per tahun
- BDFC 2026 mengajarkan pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu melalui kegiatan interaktif, sekaligus memberikan fasilitas tempat sampah terpilah
Jakarta – Urgensi pengelolaan sampah tercermin dari studi UCLA Emmett Institute on Climate Change and the Environment yang dirujuk dalam materi Biodiversity Fun Class (BDFC) 2026.
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang diperkirakan melepaskan sekitar 6,3 ton metana per jam atau sekitar 55.000 ton per tahun.
Gas metana yang antara lain dihasilkan ketika sampah organik membusuk di tempat pemrosesan akhir merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Kondisi tersebut juga memberikan tekanan terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Isu tersebut menjadi salah satu materi yang diperkenalkan PT Asuransi MSIG Indonesia (MSIG Indonesia) kepada 109 siswa kelas 5 di SDN Jampang 01 dan SDN Karang Tengah 07, Bogor, melalui penyelenggaraan BDFC 2026.
Baca juga: OJK Beberkan Strategi Baru Literasi dan Inklusi Keuangan, Ini Sasarannya
Bekerja sama dengan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) dan Save the Children Indonesia, program tersebut mengajak siswa memahami pemilahan sampah sebagai langkah sederhana untuk menjaga lingkungan sekaligus keanekaragaman hayati.
Mengusung tema “Kepedulian untuk Masa Depan” dengan konsep “Pilah Sampah, Bumi Bahagia!”, BDFC 2026 memperkenalkan tiga kategori dasar sampah, yakni organik, anorganik, dan residu. Para siswa mendapatkan pemahaman mengenai cara mengelola setiap jenis sampah serta dampak sampah yang tidak dikelola dengan baik terhadap tanah, air, hewan, dan manusia.
“Saya percaya bahwa inisiatif ini penting karena membantu membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini. Dengan memperkenalkan kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, kami berharap para siswa dapat menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi agen perubahan yang menginspirasi keluarga serta komunitas mereka untuk menerapkan praktik lingkungan yang lebih bertanggung jawab,” ujar Tomosuke Tsuruoka, Presiden Direktur MSIG Indonesia dikutip 13 Agustus 2026.
Materi BDFC 2026 disampaikan melalui video edukasi, storytelling bersama Save the Children Indonesia, kuis, permainan kelompok, hingga praktik langsung memilah sampah.
Pendekatan interaktif tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan rumah dan sekolah.
Karyawan MSIG Indonesia turut dilibatkan sebagai relawan yang mendampingi siswa selama kegiatan. Sebelum pelaksanaan, para relawan mengikuti workshop untuk memperkaya pemahaman mengenai keterkaitan antara pemilahan sampah, lingkungan, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Biodiversity Fun Class pertama kali digelar pada 2019 sebagai bagian dari komitmen MSIG Indonesia dalam edukasi lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Hingga 2026, program tersebut telah melibatkan 86 karyawan MSIG Indonesia sebagai relawan yang berperan sebagai kakak pendamping bagi para siswa.
Baca juga: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional Naik pada 2026, Ini Detailnya
Program BDFC juga telah menjangkau sembilan sekolah dasar negeri di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Kehadiran BDFC 2026 melanjutkan upaya MSIG Indonesia untuk mendekatkan isu lingkungan kepada generasi muda melalui pembelajaran yang praktis dan menyenangkan.
Melalui BDFC 2026, MSIG Indonesia menegaskan pentingnya edukasi lingkungan yang relevan dan mudah diterapkan sejak usia dini. Langkah tersebut diharapkan dapat membangun fondasi kepedulian terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati yang terus berkembang seiring pertumbuhan anak-anak.


