Moody’s Pangkas Outlook RI Jadi Negatif, Airlangga: Perlu Penjelasan Soal Peran Danantara

Moody’s Pangkas Outlook RI Jadi Negatif, Airlangga: Perlu Penjelasan Soal Peran Danantara

Poin Penting

  • Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun mempertahankan sovereign credit rating di level investment grade Baa2.
  • Airlangga menyebut outlook negatif dipicu kurangnya penjelasan pemerintah terkait perubahan pembiayaan investasi 2026, yang kini dialihkan dari BUMN/APBN ke Danantara sebagai bagian transformasi BUMN menjadi SWF.
  • Moody’s menilai outlook negatif dipengaruhi menurunnya prediktabilitas kebijakan dan kekhawatiran tata kelola.

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan penyesuaian lembaga pemeringkat Moody’s menjadi outlook negatif ke Indonesia disebabkan oleh kurangnya penjelasan dari pemerintah terhadap mekanisme pembiayaan investasi.

Seperti diketahui, lembaga pemeringkat Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2, namun melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif.

Airlangga menjelaskan, pembiayaan untuk investasi tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya, yang biasanya dilakukan melalui BUMN atau APBN sekarang beralih ke Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“Ada perbedaan di tahun ini karena investasi biasanya kan dibiayai oleh BUMN atau melalui APBN. Nah saat sekarang investasi dilakukan dengan Danantara,” kata Airlangga usai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, dikutip, Jumat, 6 Februari 2026.

Baca juga: Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo

Airlangga menyatakan telah melakukan komunikasi dengan Danantara untuk memberikan penjelasan kepada para lembaga pemeringkat global terkait perubahan tersebut.

“Jadi saya sudah bicara dengan Danantara di mana mereka juga akan mempersiapkan langkah-langkah untuk menjelaskan kepada rating agency,” kata Airlangga.

Airlangga menjelaskan, Danantara menjaga tata kelola yang baik, dan merupakan bagian dari transformasi BUMN menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF). Menurutnya, langkah ini merupakan best practice.

Dia juga memastikan, pemerintah akan tetap konsisten untuk menjaga defisit APBN tetap berada di level 3 persen dan posisi utang akan dijaga di level di bawah 40 persen.

“Kalau Moody’s kan dari segi ratingnya tetap investment grade. Hanya Moody’s bicara mengenai outlook. Outlook itu membutuhkan penjelasan. Karena pemerintah tetap konsisten bahwa budget defisit dipatok di 3 persen kemudian utang di bawah 40 persen,” imbuh Airlangga.

Adapun Moody’s Ratings mengubah prospek peringkat Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari stabil dan menegaskan peringkat penerbit jangka panjang mata uang lokal dan asing pada Baa2. 

Baca juga: Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo

Peringkat obligasi senior tanpa jaminan mata uang lokal dan asing ditegaskan pada Baa2 dan peringkat obligasi jangka menengah (MTN) senior tanpa jaminan mata uang asing serta peringkat program penerbitan obligasi senior tanpa jaminan juga ditegaskan pada (P)Baa2.

Menurut Moody’s, perubahan prospek ini didorong oleh berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan menunjukkan melemahnya tata kelola.

Jika berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama mapan, yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62