Nasional

Moody’s Pangkas Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

Poin Penting

  • Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat di level Baa2 (investment grade)
  • Penurunan outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap tata kelola, yang berpotensi menggerus kepercayaan investor
  • Kemenkeu menegaskan komitmen menjaga stabilitas fiskal dan pasar keuangan, serta menyoroti pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen.

Jakarta – Lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade.

“Perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor,” tulis keterangan Moody’s dikutip 6 Februari 2026.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, Moody’s memperkirakan akan menggerus kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. 

Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di Baa2. Artinya, Indonesia masih tergolong di kelompok investment grade.

Baca juga: Indonesia Bak “Macan Pincang”: Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen, tapi Moody’s “Menampar” dengan Rating Negatif

Peringatan bagi Kebijakan Prabowo

Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Penurunan prospek Moody’s adalah peringatan, yang dapat memicu lembaga pemeringkat lainnya untuk mengikuti jejaknya, terutama jika sifat pembuatan kebijakan tetap berada pada tingkat ketidakpastian yang tinggi,” kata Ekonom Oversea-Chinese Banking Corp., Lavanya Venkateswaran, dinukil Bloomberg, Jumat, 6 Februari 2026.

Moody’s menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia. 

Di mana, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan dua hari terburuk sejak 1998 pekan lalu setelah MSCI Inc. memperingatkan bahwa pasar negara berkembang dapat diturunkan peringkatnya menjadi status negara perbatasan karena kurangnya likuiditas dan transparansi di pasar saham.

“Mengingat betapa cepatnya situasi memburuk, kita mungkin tidak terlalu jauh dari penurunan peringkat tersebut,” kata Michael Brown, Ahli Strategi di Pepperstone Group. 

“Ini jelas merupakan pengingat lain tentang serangkaian risiko penurunan yang dihadapi aset Indonesia, dan memperjelas kekhawatiran yang sudah ada sebelumnya,” sambungnya.

Baca juga: Menko Airlangga Pamer Capaian Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, di Atas Negara-Negara Besar

Respons Pemerintah

Sementara itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengapresiasi asesmen Moody’s yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif. 

Pemerintah kata kemenkeu akan terus melakukan transformasi ekonomi dan menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi. Pemerintah terus memastikan bahwa setiap potensi risiko dapat dikelola dengan baik. 

“Berbagai upaya debottlenecking yang menghambat aktivitas usaha terus dilakukan. Selain itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar serta stabilitas pasar keuangan. Sinergi fiskal dan Danantara akan dioptimalkan,” tulis keterangan Kementerian Keuangan.

Kemenkeu menambahkan, dengan komitmen dan konsistensi kebijakan, Pemerintah optimis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat. 

Indikasi perbaikan ekonomi telah terlihat sejak Semester II 2025 dengan berbagai indikator yang membaik. Hal ini juga dikonfirmasi dengan kinerja pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 sebesar 5,39 persen yang melebihi ekspektasi pasar. 

“Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi akan terus membaik dengan komitmen pengelolaan ekonomi yang makin baik, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat, dan investasi yang meningkat di berbagai sektor sebagai indikator makin kuatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

3 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

8 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

9 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

9 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

9 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

9 hours ago