Poin Penting
- Kenaikan suku bunga BI dinilai menekan likuiditas perbankan.
- Pertumbuhan kredit mencapai 13 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan deposito 8 persen.
- Suku bunga antarbank berada di kisaran 6,00-6,50 persen, di atas BI-Rate 5,75 persen.
Jakarta – Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebut Bank Indonesia (BI) masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate satu kali lagi tahun ini.
Saat ini, BI-Rate berada di level 5,75 persen. Sepanjang 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali.
Rully mengatakan kenaikan suku bunga tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026.
Baca juga: Airlangga: BI-Rate Tetap 5,75 Persen Bisa Dongkrak Kredit Perbankan
Namun, kebijakan tersebut turut berdampak pada likuiditas perbankan yang semakin ketat.
“Jadi likuiditasnya mengetat, dengan data terakhir itu loan deposit growth-nya itu cenderung lebih tinggi sampai 13 persen sementara deposit growth-nya itu 8 persen. Jadi impact-nya likuiditas perbankan mengetat, dan interbank rates-nya itu juga mengalami fluktuasi yang cukup tinggi,” kata Rully dalam Media Day di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Rully menambahkan, suku bunga antarbank atau interbank rate idealnya berada di sekitar BI-Rate, yakni 5,75 persen. Namun, sejak akhir Mei hingga September 2026, interbank rate cenderung berada di atas BI-Rate, yakni sekitar 6,00-6,50 persen.
“Jadi sepertinya hari ini merupakan suatu situasi yang cukup sulit ketika BI itu dituntut untuk melakukan stabilisasi, stabilisasi itu dengan impact yang paling cepat itu adalah dari pengetatan likuiditas dari perbankan,” imbuhnya.
Baca juga: Pemangkasan Suku Bunga BI, Investasi Industri Asuransi Masih Didominasi SBN
Meski demikian, Rully menyebut nilai tukar rupiah mulai menguat dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut turut membuat tekanan terhadap likuiditas perbankan sedikit mereda.
Pada perdagangan hari ini, Selasa, 15 September 2026, rupiah tercatat melemah tipis di kisaran Rp17.670-Rp17.691 per dolar AS. (*)
Editor: Yulian Saputra


