Poin Penting
- Mirae Asset menilai volatilitas pasar sebagai peluang investasi.
- Saham bank besar dan komoditas direkomendasikan untuk akumulasi.
- Faktor global seperti suku bunga dan geopolitik masih jadi risiko utama.
Jakarta – Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menilai volatilitas pasar saat ini membuka peluang bagi investor untuk masuk secara selektif.
“Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan value investing. Momentum dividen dan kinerja emiten dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama pada saham komoditas dan big caps,” ujar Nafan dalam Media Day di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Secara teknikal, Nafan memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 7.346–7.447 dan resistance 7.677–7.774 dalam jangka pendek.
Baca juga: IHSG Sesi I Ditutup Melemah ke Level 7.549, Meski Mayoritas Sektor Menguat
Nafan juga menyoroti sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) yang menarik untuk diakumulasi pada kuartal II 2026, yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Peluang di Saham Komoditas
Selain itu, saham berbasis komoditas juga dinilai menarik seiring kuatnya harga emas dan dinamika geopolitik global, di antaranya PT Aneka Tambang Tbk, PT Bumi Resources Minerals Tbk, PT United Tractors Tbk, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk.
Mirae Asset menilai volatilitas pasar bukan hanya risiko, tetapi juga peluang yang dapat dimanfaatkan melalui strategi investasi yang tepat.
“Dengan kombinasi fundamental domestik yang solid serta peluang sektoral yang selektif, investor diharapkan dapat lebih adaptif dalam menangkap momentum pasar pada kuartal II 2026,” imbuhnya.
Baca juga: ADMR Bagikan Dividen Tunai USD120 Juta, Simak Jadwalnya
Faktor Global Masih Menekan
Sementara itu, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar pada kuartal II 2026.
Menurutnya, konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan global, turut mendorong tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Volatilitas merupakan bagian dari dinamika global, namun dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka,” ujar Rully.
Baca juga: Mirae Asset Sebut Tekanan Eksternal Masih Bayangi IHSG dan Rupiah
Ia menambahkan ruang pelonggaran suku bunga cenderung terbatas di tengah tekanan inflasi dan harga minyak, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diproyeksikan berada di kisaran 5,0 persen pada 2026. (*)
Editor: Yulian Saputra







