Poin Penting
- Mirae Asset menilai pasar global mulai membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik, namun ekspektasi suku bunga tinggi The Fed masih menjaga volatilitas pasar
- IHSG melemah 2,42 persen ke level 5.679,75 pada sesi I perdagangan 30 Juni 2026, mencerminkan tekanan dari sentimen global dan faktor domestik
- Investor diminta selektif dan fokus pada fundamental karena pemulihan pasar Indonesia bergantung pada kepercayaan terhadap kebijakan domestik.
Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar keuangan global mulai membaik seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Kendati demikian, pelaku pasar masih dihadapkan pada sejumlah risiko, baik dari arah kebijakan moneter global maupun dinamika ekonomi domestik yang berpotensi menahan laju pemulihan pasar.
Di pasar domestik, tekanan masih terlihat pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga penutupan perdagangan sesi I, Selasa (30/6), IHSG anjlok 2,42 persen ke level 5.679,75 dari posisi sebelumnya 5.820,79.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa meskipun risiko geopolitik mulai mereda, sentimen pasar masih dibayangi oleh prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Baca juga: Bos BTN Buka-bukaan Soal Peluang Buyback Saham
Saat ini, Federal Funds Rate (FFR) berada di level 3,75 persen dan diproyeksikan masih berpotensi naik masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember, sehingga mencapai 4,25 persen pada akhir 2026.
Selain itu, prospek ekonomi global juga mengalami penyesuaian. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan sebesar 3,1 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya 3,3 persen.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5,0 persen, sedikit di bawah estimasi sebelumnya sebesar 5,1 persen.
“Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi,” ucap Rully dalam Media Day di Jakarta, 30 Juni 2026.
Baca juga: BEI Targetkan Lebih dari 1.100 Emiten IPO pada 2030
Risiko Domestik
Ia menambahkan, perhatian investor kini juga tertuju pada berbagai faktor domestik, seperti stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal pemerintah, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.
“Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya,” tambahnya. (*)
Editor: Galih Pratama


