Poin Penting
- Sentimen global masih menekan pasar keuangan domestik.
- IHSG turun 1,33 persen dan asing mencatat net sell Rp748 miliar.
- Kenaikan yield global dan harga minyak membatasi ruang pelonggaran BI.
Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti bahwa pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan dari sisi sentimen global yang belum sepenuhnya mereda.
Hal itu tecermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat turun 1,33 persen ke level 6.589 pada Kamis (10/9), disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp748 miliar di pasar reguler.
Di tengah kondisi tersebut, investor dinilai perlu tetap selektif dengan mencermati fundamental dan perkembangan likuiditas domestik.
Baca juga: Mirae Asset Ramal MSCI Kembali Buka Rebalancing Saham RI Tahun Depan
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa tekanan terlihat pada saham perbankan, khususnya BBCA dan BBRI, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang pasar.
Sementara itu, investor asing juga masih mengakumulasi sejumlah saham seperti ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA, yang mengindikasikan adanya rotasi parsial menuju saham komoditas dan sektor tertentu.
“Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5 persen, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5 persen, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas,” ucap Rully dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Baca juga: IHSG Merosot 0,73 Persen ke 6.541 Jelang Akhir Pekan, Sektor Kesehatan Jadi Penyelamat
Adapun menurut Rully, nilai tukar rupiah saat ini berada di sekitar Rp17.547 per dolar AS dengan yield SBN 10 tahun sebesar 7,11 persen. Tidak adanya lelang SRBI sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan ke SBN.
Penguatan rupiah memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengurangi stance defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek, meski tekanan harga minyak dan global yields masih membatasi ruang pengelolaan melalui BI-Rate. (*)
Editor: Yulian Saputra


