Menimbang Prospek Superbank Masuk Bursa

Menimbang Prospek Superbank Masuk Bursa

Oleh Paul Sutaryono

KABAR teranyar, bank digital Superbank (SUPA) akan menawarkan saham perdana di lantai bursa (initial public offering/IPO) pada 17 Desember 2025. Apa saja keunggulan kompetitif (competitive advantages) bagi Superbank? Apa pula sentimen positifnya bagi bank digital lainnya?

Dalam IPO, Superbank akan menawarkan 4,40 miliar saham dengan target dana Rp3,06 triliun pada harga Rp695 per saham. Superbank sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Farma International yang berdiri di Bandung pada 1993 yang tengah melakukan transformasi menjadi bank yang berfokus pada layanan digital. Pada 2023, Bank Farma resmi berubah menjadi Superbank.

Pada 2024, Superbank makin memperkuat posisinya dengan meluncurkan berbagai produk tabungan dan pinjaman inovatif. Hal itu bertujuan untuk membantu nasabah dalam mengelola keuangan mereka dengan lebih baik.

Pemegang saham Superbank adalah PT Elang Media Visitama 31,11 persen, PT Kudo Teknologi Indonesia 19,16 persen, GXS Bank Pte Ltd 12 persen, A5-DB Holdings Pte Ltd 11,52 persen, KokooBank Corp 9,95 persen, Singtel Alpha Investment Pte Ltd 8,46 persen, dan pemegang saham dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5 persen sebesar 7,80 persen.

Terkait kinerja, per September 2025, Superbank memiliki total aset Rp16,5 triliun. Pertumbuhan kreditnya memelesat hingga 84,66 persen (year on year/yoy) menjadi Rp9,04 triliun pada triwulan III-2025. Dana pihak ketiga (DPK) mengalami kenaikan jauh lebih tinggi daripada kredit yakni 203 persen menjadi Rp9,8 triliun.

Kinerja kredit dan DPK yang yahud mengantarkan loan to deposit ratio (LDR) Superbank mencapai puncaknya, yaitu 92 persen, di atas ambang batas LDR 78-92 persen. Artinya, kredit tumbuh agresif.

Sementara itu, laba sebelum pajak mencapai Rp80,9 miliar, yang didukung oleh lonjakan pendapatan bunga bersih 176 persen menjadi Rp1,1 triliun. Karena itu, tak mengherankan ketika net interest margin (NIM) naik menjadi 10,64 persen. Angka NIM yang sangat tinggi.

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross 2,83 persen, sedangkan NPL net 1,21 persen. Rasio itu jauh di bawah ambang batas aman 5 persen.

Baca juga: Superbank (SUPA) Patok Harga IPO Rp635 per Saham

Aneka Keunggulan Kompetitif

Sejatinya, apa saja keunggulan kompetitif yang didapat Superbank dengan melantai di bursa?

Pertama, tentu saja kinerja Superbank bakal makin kinclong. Mengapa? Lantaran Superbank sebagai bank digital baru namun sudah IPO. Dengan IPO, Superbank akan menggeber kredibilitas sehingga makin dilirik investor nasional, regional, dan internasional.

Terlebih dengan NIM yang mencapai level 10 persen, Superbank akan makin mampu dalam meraup pendapatan dari bunga (interest income). Selama ini, NIM paling tinggi dipegang PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai pemimpin pasar (market leader) di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kedua, dengan likuiditas jauh lebih perkasa, daya saing Superbank di pasar akan semakin tinggi. Alhasil, Superbank juga akan semakin mampu bersaing dengan bank digital lainnya.

Ketiga, Superbank pun akan lebih diamati bukan hanya oleh investor institusi, tetapi juga investor individu. Hebatnya lagi, total investor pasar modal yang mencapai 18,02 juta orang per Agustus 2025 ternyata didominasi oleh investor individu 99,71 persen (17,97 juta orang). Sebaliknya, investor institusi hanya 0,29 persen (51,97 ribu orang).

Investor muda, yang terdiri atas usia sampai atau di bawah 30 tahun menjadi pemimpin pasar (54,12 persen), disusul usia 31-40 tahun (24,89 persen).

Selanjutnya, investor usia 41-50 tahun 12,31 persen, usia 51-60 tahun 5,74 persen, dan usia di atas 60 tahun 2,94 persen atau paling kecil persentasenya (PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI, Agustus 2025).

Data tersebut menegaskan investor usia muda akan lebih menggairahkan pasar modal ke depan. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika generasi Y (lahir 1981-1996) dan Z (1997-2012) kini menjadi target market hampir semua jenis bisnis. Bahkan bidang politik pun menetapkan generasi tersebut menjadi target market dalam memenangi pertarungan dalam pemilu dan pilkada (Paul Sutaryono, Emitennews.com, 29 November 2025).

Keempat, mampukah Superbank menjadi katalis positif yang dapat mengangkat sentimen valuasi dan emiten bank digital lainnya? Ya! Bank digital lebih moncer!

Bank digital mana saja yang sudah masuk bursa? Terdapat tujuh bank digital, yaitu PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR).

Dengan makin banyaknya bank digital yang masuk bursa, persaingan bank digital akan semakin sengit. Sudah barang tentu, bank digital dengan kinerja tinggi akan dipeluk lebih erat oleh nasabah dan investor.

Kelima, ingat bahwa IPO juga berarti mengerek nilai-nilai perusahaan (corporate values). Artinya, Superbank akan meningkatkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Buah manisnya, investor kian tersenyum ketika menerima dividen yang gurih tiap tahun.

Keenam, hal itu akan terwujud segera ketika kelak dana hasil IPO Superbank benar-benar dimanfaatkan untuk menambah modal dan meningkatkan likuiditas serta melebarkan sayap bisnis. Ujungnya, Superbank makin sanggup untuk melakukan penetrasi ke pasar ritel dan UMKM yang lebih dalam pada 2026.

Tengoklah, Superbank telah meluncurkan produk Saku by Superbank. Hal ini memungkinkan nasabah dapat membuat hingga delapan rekening terpisah untuk berbagai tujuan. Ada pula Celengan by Superbank dari recehan transaksi harian dengan bunga tinggi. Hal itu bertujuan untuk membantu nasabah dalam menabung sedikit demi sedikit menjadi bukit.

Baca juga: IPO Superbank (SUPA) Oversubscribed hingga 318,69 Kali

Ketujuh, kinerja kredit Superbank yang secara kualitatif naik 84,66 persen per September 2025 juga boleh dibandingkan dengan bank digital lainnya. Simak data berikut:

Pertumbuhan kredit Bank Neo turun 19,1 persen, Seabank naik 44,83 persen, Allo Bank Indonesia naik 15,58 persen, Bank Jago naik 36 persen, sementara Bank Amar naik 10,99 persen. Kemudian BCA Digital naik 51,29 persen, Bank Aladin naik 22,40 persen, Krom Bank naik 124,76 persen, dan Hibank Indonesia naik 22,75 persen (Bisnis Indonesia, 18 November 2025). Data tersebut menegaskan bahwa persaingan bank digital bakal kian panas namun semarak.

Kedelapan, selama ini, beberapa bank papan atas telah memiliki bank digital. Katakanlah, BRI memilki PT Bank Raya Indonesia Tbk (ARGO), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memiliki PT Hibank Indonesia Tbk, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk atau BCA memiliki PT BCA Digital Tbk. Sementara ini, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk alias Bank Mandiri masih mengandalkan aplikasi Livin’ by Mandiri untuk melayani nasabah berbasis digital.

Nah, ketika kinerja Superbank kian mencorong segera setelah sukses meraup dana besar di pasar modal, maka hal itu menjadi magnet bagi bank papan atas lainnya untuk segera memiliki bank digital. Sungguh!

Penulis adalah Pengamat Perbankan, Assistant Vice President BNI (2005-2009), Staf Ahli Pusat Studi Bisnis (PSB) Universitas Prof. Dr. Moestopo (UPDM), Jakarta dan Advisor Pusat Pariwisata Berkelanjutan Indonesia (PPBI) Unika Atma Jaya, Jakarta.

Related Posts

News Update

Netizen +62