Oleh Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga
MENTERI yang satu ini memang sering ceplas-ceplos. Boleh dibilang, kerap melawan arus. Contohnya dalam menyikapi rupiah, yang kini sedang berdarah-darah.
Ketika banyak pengamat pesimistis terhadap nasib rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan enteng menyatakan nilai tukar rupiah akan kembali menguat ke level Rp15.000 per dolar AS (USD).
Jadi, alih-alih khawatir tukar rupiah akan terpuruk melewati angka Rp18.000 per dolar AS. Purbaya justru yakin nilai tukar rupiah akan terdongkrak.
Optimistis Pulih
Purbaya optimistis mata uang rupiah akan pulih, terutama karena dua hal. Pertama, berkat pasokan devisa dari aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang berlaku. Kedua, intervensi pasar obligasi pemerintah.
Di tengah tekanan pasar keuangan global, Purbaya bahkan meminta para pelaku pasar valuta asing (valas) segera melepas dolar AS karena pemerintah optimistis rupiah akan menguat. Pernyataan Purbaya ini disampaikan di acara Jogja Financial Festival, Jumat, 22 Mei 2016 lalu.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Bisa Picu PHK Massal, Begini Respons Menaker
Di mata Purbaya, selama ini yang menyebabkan nilai tukar rupiah drop adalah karena permainan para spekulan dolar AS. Tidak sedikit pelaku ekonomi yang sengaja membeli dolar AS dengan harapan akan meraup keuntungan besar dari naiknya nilai tukar mata uang pemerintahan Donald Trump ini.
Purbaya memastikan kondisi ekonomi saat ini aman dan meminta masyarakat untuk tidak panik seolah krisis seperti tahun 1998 akan terulang. Dalam berbagai kesempatan, Purbaya sering kali menyatakan bahwa sikap pengamat yang hanya melontarkan kritik tanpa mau melihat perubahan-perubahan baik yang terjadi adalah sikap yang tidak mau memahami kebenaran.
Penguatan rupiah dia prediksi akan terjadi seiring dengan masuknya pasokan dolar AS yang signifikan. Orang-orang yang menjual saham rupiah dan memindahkan ke dalam bentuk mata uang dolar AS, bukan saja kecele, tetapi juga merisiko rugi sendiri.
Sejujurnya, nasib rupiah terletak pada bagaimana cara berkomunikasi pemerintah dan bagaimana mengelola isu krisis tidak melebar ke mana-mana. Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya perlu menegaskan optimisme bahwa nilai tukar rupiah dapat didorong untuk kembali menguat ke level Rp15.000 per dolar AS. Langkah strategis ini dapat dilakukan melalui intervensi pasar obligasi untuk menahan arus modal keluar serta memperkuat cadangan devisa dari DHE.
Sejauh mana janji Purbaya yang akan mendongkrak rupiah hingga Rp15.000 per dolar AS akan berhasil direaliasikan tentu masih perlu diuji oleh waktu. Secara objektif, diakui atau tidak, rupiah memang sempat mengalami periode tekanan yang sangat berat. Sentimen global, ketidakpastian geopolitik, dan penguatan indeks dolar AS (DXY) secara masif telah mendorong nilai tukar rupiah melemah hingga menembus kisaran Rp17.600-Rp17.700 per dolar AS.
Janji Menteri Purbaya yang ingin mendorong penguatan rupiah hingga menyentuh Rp15.000 telah memicu diskusi yang luas di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Bagi sebagian pihak, target mendongkrak nilai tukar rupiah hingga Rp15.000 per dolar AS dipandang sebagai ambisi yang berlebihan.
Namun, Purbaya menyebutnya sebagai calculated move atau kebijakan yang terukur. Dengan fondasi ekonomi nasional yang dinilai masih solid, target penguatan ini bukanlah isapan jempol belaka – asalkan intervensi dan reformasi struktural berjalan beriringan.
Bukan Perkara Mudah
Optimistis atau tidak optimistis, mendongkrak rupiah menuju level Rp15.000 bukan hal yang mudah. Selama ini, Purbaya secara agresif telah melakukan intervensi di pasar obligasi sekunder dengan mengucurkan dana hingga triliunan rupiah.
Langkah tersebut bertujuan untuk menjaga imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tetap stabil dan menarik minat investor asing untuk kembali masuk ke pasar surat utang Indonesia.
Masalahnya, apakah pemerintah bisa merayu investor asing untuk kembali dan menanamkan modalnya di Indonesia?
Untuk mencapai level Rp15.000, sekali lagi, bukanlah perkara mudah. Berbagai kendala struktural dan eksternal mengadang langkah intervensi yang dikembangkan Purbaya. Kebijakan moneter The Fed yang masih cenderung hawkish membuat dolar AS tetap menjadi primadona safe haven bagi investor global.
Selama selisih suku bunga (spread) antara AS dan negara berkembang masih terlalu tipis, risiko terjadinya arus modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) akan selalu ada. Supremasi dolar AS akan tetap kuat sepanjang suku bunga yang ditawarkan tinggi.
Baca juga: Airlangga Ungkap Selisih Data Ekspor RI Capai Ratusan Triliun Rupiah
Untuk merealisasikan target penguatan rupiah menuju level Rp15.000, ke depan dibutuhkan perpaduan kebijakan yang seirama antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI). Penerapan PP Nomor 21 Tahun 2026 mengenai kewajiban retensi Devisa Hasil Ekspor harus diawasi dengan ketat untuk memastikan devisa benar-benar mengendap di sistem keuangan dalam negeri dan tidak beralih ke negara tetangga.
Di lain pihak, BI juga dituntut untuk mengoptimalkan bauran kebijakan, termasuk memperdalam pasar keuangan dengan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Mengerek suku bunga (BI-Rate) menjadi langkah terukur untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik di mata investor asing di tengah gejolak global.
Semoga optimisme Purbaya menjadi nyata. Rakyat tak butuh dengan janji-janji dan omon-omon.


