Ilustrasi: Penyaluran kredit perbankan. (Foto: Istimewa)
Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom dan Co-Founder Institute of Social, Economic and Digital/ISED
KEJATUHAN sejumlah bank di Amerika Serikat (AS) dan Eropa telah menyadarkan kembali pemikiran kalangan perbankan untuk memberikan perhatian lebih kepada upaya mengelola risiko kredit yang lebih mumpuni. Kesadaran untuk mengelola risiko kredit menjadi semakin penting bertepatan dengan akan dinormalisasikannya kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit.
Maklum, ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung terus menjadi tantangan bagi bank dalam menilai kualitas kredit, terutama yang terkait dengan sektor-sektor ekonomi yang rentan. Praktik perkreditan yang prudent memungkinkan bank mengidentifikasi setiap potensi kenaikan risiko kredit secara konsisten dan tepat waktu, sehingga membentuk bagian integral dari manajemen risiko kredit.
Poin Penting Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi asuransi umum 2025 hanya naik 4,8% menjadi… Read More
Poin Penting Klaim dibayar asuransi umum 2025 naik 4,1 persen menjadi Rp48,96 miliar; lonjakan tertinggi… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menegaskan dukungan Indonesia terhadap perdamaian berkelanjutan di Palestina dengan solusi… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,03 persen ke 8.271,76. Sebanyak 381 saham terkoreksi, 267 menguat,… Read More
Poin Penting Pendapatan premi asuransi umum sepanjang 2025 naik 4,8% menjadi Rp112,81 miliar. Lini dengan… Read More
Poin Penting Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan kredit perbankan tumbuh sekitar 10 persen… Read More