Jakarta–Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh tantangan buat industri keuangan, khususnya perbankan.
Berbagai masalah menerpa sektor ini mulai dari keinginan pemerintah menekan bunga kredit menjadi single digit, penurunan penyaluran kredit dan kualitas kredit, hingga sentimen dari luar seperti efek Brexit dan kenaikan suku bunga AS.
Berbagai kondisi tersebut ditambah upaya mengantisipasi kualitas kredit yang memburuk, membuat banyak bank yang tetap melakukan pencadangan di tahun ini .
Namun apakah aksi pencadangan yang dilakukan perbankan ini merupakan pertanda “lampu kuning” buat investor akan kinerja saham bank ke depan? (Bersambung ke halaman berikutnya)
Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia, Haryajid Ramelan mengatakan, pencadangan memang perlu dilakukan, karena bank harus menekan potensi kredit macet, serta fokus dalam upaya perbaikan kualitas kredit.
Sehingga secara jangka panjang saham-saham bank, khususnya, bank BUMN masih potensial untuk dikoleksi. Terlebih, bank selalu menghasilkan laba dan memberikan dividen setiap tahunnya.
Baca juga: Saham Bank di 2017 Masih Menarik Investor
“Menurut saya BRI dan Mandiri masih bagus,” kata Haryajid di acara diskusi meneropong prospek saham perbankan 2017, kemarin.
Di kesempatan yang sama, Senior Investment Samuel Asset Management Joseph Pangaribuan mengungkapkan, bank-bank dalam beberapa tahun sendiri mengalami banyak tantangan. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Keoptimisan perbankan akan kondisi perekonomian membuat bank agresif dalam melakukan ekspansi bisnis, khususnya dalam hal penyaluran kredit. Padahal, sejak tahun 2010 kondisi ekonomi global sedang kurang kondusif. Hal inilah yang membuat banyak bank tertekan dari sisi NPL.
Baca juga: NPL Tinggi Bikin Suku Bunga Kredit Sulit Turun
Kendati demikian Ia melihat secara jangka panjang saham bank masih menarik, asalkan bank tetap perhatian dalam melihat pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Bank diimbau menyesuaikan ekspansi sesuai kondisi ekonomi. Jangka panjang masih oke, tinggal tantangan perbankan saat ini literasi saja harus terus ditingkatkan kepada masyarakat,” tukasnya.
Laju saham perbankan sepanjang tahun 2016 tercatat positif. Hal tersebut bisa dilihat dari indeks acuan saham perbankan yakni indeks infobank15, yang secara setahuanan (YOY) melonjak 16,98 persen atau 45.02 poin dari posisi level 524.79 pada tahun 2015 menjadi 613.80.
Berdasarkan data yang diolah infobank, kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang secara YOY, hanya naik 15,32 persen selama tahun 2016.
Optimisme investor akan positifnya kinerja perbankan, khususnya saham bank-bank berkapitalisasi besar menjadi pendorongnya. Maklum, bank besar selalu menghasilkan laba dan membagikan dividen setiap tahun. Alhasil investor pun masih tercatat asik mengoleksi saham-saham bank besar.
Contohnya saja saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Selama satu tahun saham bank yang dinahkodai oleh Jahja Setiaatmadja ini naik dari Rp13.300 menjadi Rp15.500. Sementara saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) YOY naik dari Rp11.425 menjadi Rp11.675. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Kenaikan juga terjadi pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dari Rp9.250 di akhir tahun 2015 menjadi Rp11.575. Sedangkan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik dari Rp4.990 ke Rp5.525.
Kenaikan terbesar dialami saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Bank yang dipimpin Maryono ini naik 34 persen selama satu tahun dari Rp1.295 menjadi Rp1.740 di akhir 2016. Keuntungan tersebut belum dihitung dari dividen yang dibagikan di akhir laporan tutup buku akhir tahun.
Saat ini sendiri selain saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI dan BBTN daftar saham yang masuk dalam penghitungan Indeks infobank15 untuk periode Januari hingga Juni 2017 terdiri dari PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), PT Bank Windu Kentjana International Tbk (MCOR), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA), PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM), PT BPD Jawa Timur Tbk (BJTM), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). (*)
Editor: Paulus Yoga




