Moneter dan Fiskal

Menanti Transparansi Kemenkeu dalam Publikasi APBN Kita yang Tertunda

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum merilis data kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Januari 2025, yang seharusnya diumumkan pada akhir Februari lalu.

Publikasi APBN Kita merupakan laporan Kementerian Keuangan yang mencakup kinerja pendapatan, belanja, dan pembiayaan negara sebagai bentuk transparansi fiskal kepada masyarakat.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro mengatakan, konferensi pers terkait APBN akan dilaksanakan pekan depan untuk merilis realisasi Januari dan Februari 2025.

“Iya, inshaallah minggu depan. Tunggu saja ya,” ujar Deni saat dihubungi Infobanknews, Jumat, 7 Maret 2025.

Baca juga: Kemenkeu Sebut Anggaran Rp71 T untuk MBG Tak Bebani APBN, Ini Penjelasannya

Biasanya, publikasi APBN Kita dilakukan setiap akhir bulan. Untuk realisasi Januari, laporan biasanya dirilis pada Februari, dan seterusnya.

Dikutip dari laman resmi Kemenkeu, APBN Kita adalah publikasi bulanan yang bertujuan untuk menginformasikan masyarakat mengenai kinerja pendapatan, belanja, dan pembiayaan negara sebagai bentuk tanggung jawab publik dan transparansi fiskal.

Pendapatan negara merupakan sumber utama pendanaan pembangunan nasional. Belanja negara digunakan untuk melaksanakan program-program prioritas guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, pembiayaan negara berfungsi sebagai instrumen pendukung dalam menjalankan APBN.

Tantangan Fiskal di Tengah Penundaan Rilis APBN

Di tengah penundaan rilis APBN Kita, pemerintah juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti kendala dalam implementasi core tax, efisiensi anggaran sebesar Rp306,69 triliun, serta penyesuaian anggaran bagi kementerian, lembaga, dan daerah.

Sementara itu, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai, absennya publikasi APBN Kita menimbulkan banyak pertanyaan mengenai kondisi keuangan negara, efektivitas kebijakan fiskal, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.

Salah satu alasan yang dikemukakan Kemenkeu terkait keterlambatan ini adalah jadwal padat pejabat tinggi kementerian.

Baca juga: Kurangnya Transparansi APBN Dinilai Berisiko Guncang Ekonomi Nasional

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, laporan APBN Kita hampir selalu dirilis tepat waktu sebagai bentuk keterbukaan pemerintah dalam mengelola keuangan negara.

Kemungkinan lain yang perlu dicermati adalah kondisi penerimaan negara yang tidak sesuai target. Dalam laporan APBN 2024, pendapatan negara dari sektor perpajakan dan non-pajak mengalami tekanan akibat perlambatan ekonomi global serta melemahnya harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti batu bara dan minyak sawit.

“Jika penerimaan negara menurun secara signifikan, ini bisa menjadi alasan mengapa pemerintah menunda rilis data APBN,” kata Achmad dalam keterangannya.

Achmad menambahkan bahwa publikasi laporan yang menunjukkan penurunan pendapatan bisa berdampak pada sentimen negatif di pasar keuangan dan mengurangi kepercayaan investor. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

OJK Wanti-wanti “Ormas Galbay” dan Jual Beli STNK Only Tekan Industri Pembiayaan

Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More

12 mins ago

Sidak Industri Baja, Purbaya Kejar Potensi Tunggakan Pajak Rp500 Miliar

Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More

14 mins ago

Bank Mandiri Catat Pembiayaan Berkelanjutan Rp316 Triliun Sepanjang 2025

Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More

1 hour ago

Pembiayaan Multifinance 2025 Lesu, OJK Ungkap Biang Keroknya

Poin Penting Aset industri pembiayaan 2025 terkontraksi 0,01 persen, dengan pertumbuhan piutang hanya 0,61 persen,… Read More

1 hour ago

Dilantik jadi Wamenkeu, Juda Agung Ungkap Arahan Prabowo

Poin Penting Juda Agung resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan, menggantikan Thomas Djiwandono yang menjadi… Read More

2 hours ago

APPI Beberkan Dampak Kekerasan Debt Collector dan Jual Beli STNK Only

Poin Penting Maraknya penagihan intimidatif berdampak pada kebijakan perusahaan pembiayaan, yang kini memperketat prinsip kehati-hatian… Read More

2 hours ago