Poin Penting
- Disiplin jadi kunci utama transformasi dan pertumbuhan berkelanjutan KB Bank, melampaui peran teknologi maupun strategi bisnis
- Tantangan membangun disiplin makin besar di era digital dan perubahan karakter generasi, sehingga perlu penanaman kembali nilai komitmen dan tanggung jawab
- Disiplin harus ditopang integritas dan karakter kuat, serta diperkuat sistem digital agar budaya kerja berjalan konsisten tanpa bergantung pada individu.
Jakarta — Di tengah upaya transformasi bisnis dan perbaikan kinerja, KB Bank menghadapi tantangan yang tidak sederhana: membangun budaya kerja yang kuat sekaligus menjaga pertumbuhan berkelanjutan.
Bagi Direktur Wholesale KB Bank, Widodo Suryadi, kunci dari semua itu justru bukan berasal dari teknologi atau strategi bisnis semata, melainkan hal yang lebih mendasar, yakni disiplin.
Dalam wawancara khusus bersama tim Infobanknews, Muhamad Ibrahim dan Reggy Prawoso di kantornya di Jakarta, Senin (30/1), Widodo kerap menarik pelajaran dari transformasi ekonomi Korea Selatan.
Ia mengingatkan bahwa pada era 1970-an, Indonesia pernah berada di posisi ekonomi yang lebih kuat dibanding negara tersebut.
Namun, dalam kurun 30 hingga 40 tahun, Korea Selatan mampu menyalip menjadi negara maju meski tanpa kekayaan sumber daya alam.
“Mereka bisa maju karena kerja keras dan etos kerja yang luar biasa. Dan itu dimulai dari mana? dari disiplin,” akunya.
Baca juga: KB Bank Bidik Pembiayaan Wholesale Tumbuh 70 Persen di 2026, Begini Strateginya
Baginya, nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam organisasi modern, termasuk di industri perbankan yang berbasis kepercayaan.
Tantangan Generasi dan Era Digital

Diakuinya, membangun disiplin di era saat ini bukan perkara mudah. Perubahan gaya hidup dan pengaruh media sosial turut membentuk karakter generasi muda yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Widodo, yang mengawali karier perbankannya sejak akhir 1990-an, menyebut dirinya sebagai bagian dari generasi yang terbiasa dengan keterbatasan, tanpa teknologi digital seperti sekarang. Pengalaman itu, justru membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab dalam bekerja.
“Dulu tanpa teknologi pun semua bisa berjalan karena ada komitmen dan disiplin. Itu yang ingin saya bangun kembali di sini,” ujarnya
Fondasi Budaya: Integritas dan Karakter
Lebih jauh, Widodo menekankan bahwa disiplin tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh integritas dan karakter yang kuat.
Baca juga: KB Bank Andalkan Corporate Banking jadi Motor Pertumbuhan Bisnis
Dalam industri perbankan, hal ini menjadi krusial karena bank mengelola dana yang berasal dari masyarakat.
“Integritas itu harga mati. Kita dipercaya mengelola uang publik, jadi tidak boleh ada kompromi,” ujarnya.
Menurutnya, banyak kasus kegagalan bank di masa lalu berakar dari lemahnya integritas dan disiplin dalam organisasi.
Pendekatan “Old School” yang Relevan

Widodo pun tak menampik pendekatannya cenderung “old school”. Namun ia meyakini, nilai-nilai dasar seperti disiplin dan integritas tetap relevan, selama dikombinasikan dengan sistem dan teknologi modern.
Jika dulu pengawasan dilakukan secara manual, kini disiplin dapat diperkuat melalui sistem digital yang lebih transparan dan terukur.
Pendekatan ini, kata dia, bertujuan menciptakan budaya kerja yang tidak bergantung pada individu tertentu.
“Tujuannya adalah organisasi tetap berjalan, bahkan tanpa harus selalu diawasi langsung,” katanya.
Membangun Sistem yang Berjalan Sendiri
Salah satu indikator keberhasilan budaya kerja, menurut Widodo, adalah ketika sistem dapat berjalan secara otomatis tanpa ketergantungan pada figur pimpinan.
Dalam kondisi tersebut, setiap individu memahami peran dan tanggung jawabnya, serta menjalankan pekerjaan dengan standar yang sama.
Hal ini menjadi penting dalam mendorong kinerja berkelanjutan, terutama bagi KB Bank yang tengah memperbaiki kualitas bisnis dan portofolio. (*)
Editor: Galih Pratama










