Poin Penting:
- Kebutuhan susu untuk Program MBG 2026 diperkirakan mencapai 4,8 miliar kemasan, sementara kapasitas industri nasional baru 2,39 miliar kemasan atau 49,7 persen.
- Kemenperin mencatat tiga perusahaan telah meningkatkan kapasitas dan investasi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan susu program MBG.
- Pemerintah menyiapkan insentif investasi dan digitalisasi rantai pasok guna memperkuat produksi susu nasional dan keterlibatan koperasi.
Kapasitas Industri Susu Baru 49,7 Persen, MBG 2026 Butuh 4,8 Miliar Kemasan
Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan kebutuhan susu untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 diperkirakan mencapai 4,8 miliar kemasan ukuran 115 mililiter dan 125 mililiter. Namun, kapasitas industri pengolahan susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar separuh dari total kebutuhan tersebut.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan kapasitas produksi industri nasional untuk kemasan susu ukuran tersebut saat ini baru mencapai 2,39 miliar kemasan atau sekitar 49,7 persen dari kebutuhan MBG secara keseluruhan.
“Program MBG tahun 2026 ini kebutuhan susu itu sebesar 4,8 miliar kemasan sedangkan kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan 115 dan 125 mililiter itu baru 2,39 miliar atau 49,7 persen dari kebutuhan MBG secara keseluruhan,” kata Merrijantij dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, dikutip Antara, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Susu Formula MBG Dinilai Berisiko Ganggu Program ASI Eksklusif
Tiga Perusahaan Tingkatkan Kapasitas Produksi Susu
Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan susu dalam program MBG, Kemenperin mencatat terdapat tiga perusahaan yang telah melakukan peningkatan kapasitas produksi maupun investasi baru.
Meski demikian, pemerintah menilai langkah tersebut masih belum cukup untuk menutup kesenjangan antara kapasitas produksi nasional dan kebutuhan program MBG yang terus meningkat. Karena itu, upaya ekspansi industri pengolahan susu dinilai perlu terus diperkuat dalam beberapa tahun ke depan.
Selain mengandalkan pelaku industri, pemerintah juga mendorong keterlibatan koperasi dalam sektor pengolahan susu guna memperluas kapasitas produksi dalam negeri.
“Kami sangat berharap industri pengolahan susu ini bisa bermitra dengan koperasi-koperasi dan memberikan pendampingan kepada koperasi-koperasi yang ingin melakukan pengolahan untuk pemenuhan susu MBG ini,” ujarnya.
Kemenperin Siapkan Insentif untuk Industri dan Koperasi Susu
Sebagai bagian dari strategi peningkatan kapasitas produksi, Kemenperin saat ini menjalankan program restrukturisasi industri yang ditujukan untuk mendukung investasi unit pengemasan (filling unit) pada industri pengolahan maupun koperasi yang ingin memproduksi susu siap minum dalam kemasan.
Melalui program tersebut, pemerintah memberikan penggantian biaya investasi hingga 35 persen bagi produk yang memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Sementara untuk produk dalam negeri lainnya, insentif yang diberikan mencapai 25 persen dari nilai investasi.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kapasitas industri nasional sehingga kebutuhan program MBG dapat dipenuhi secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Digitalisasi Rantai Pasok dan Konsumsi Susu Masih Rendah
Di sisi lain, Kemenperin juga tengah mempercepat digitalisasi rantai pasok susu segar nasional. Saat ini, sebanyak 96 tempat pengumpulan susu dari sembilan koperasi telah terintegrasi dalam program digitalisasi pemerintah.
Menurut Merrijantij, pemerintah juga sedang menyiapkan sebuah aplikasi yang memungkinkan koperasi mengirimkan data pasokan secara real time.
“Kami juga menyiapkan satu aplikasi yang semua koperasi-koperasi ini bisa mengirimkan data, sehingga kita mengetahui suplai real time susu-susu di 96 tempat pengumpulan susu ini,” ungkapnya.
Di tengah upaya peningkatan kapasitas produksi, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN.
Berdasarkan data World Population Review 2022, konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut berada di bawah Malaysia yang mencapai 42,49 liter, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam 37,21 liter per kapita per tahun.
Merrijantij menilai peringatan Hari Susu Nusantara 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan konsumsi sekaligus memperkuat industri pengolahan susu nasional dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, peningkatan konsumsi dan kapasitas produksi susu nasional merupakan bagian penting dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, Kemenperin bersama pelaku industri akan terus mendorong penguatan sektor ini agar kebutuhan gizi masyarakat, termasuk melalui program MBG, dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemenuhan kebutuhan susu untuk program MBG diharapkan dapat tercapai pada 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


