Perbankan

Maybank Indonesia Raup Laba Sebelum Pajak Kuartal III 2025 Rp1,30 T, Ini Penopangnya

Poin Penting

  • Maybank Indonesia mencatat laba sebelum pajak Rp1,30 triliun pada kuartal III-2025, tumbuh 53,9%, dengan laba bersih (PATAMI) naik 77,3% menjadi Rp989 miliar.
  • Pertumbuhan laba ditopang oleh pendapatan operasional yang kuat, efisiensi biaya, serta peningkatan pendapatan bunga dan nonbunga.
  • Kualitas aset membaik, NPL turun ke 2,4% (gross) dan 1,5% (net), sementara likuiditas dan permodalan tetap solid dengan CAR 27,1%.

Jakarta - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) atau Maybank Indonesia mencatat laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) sebesar Rp1,30 triliun, naik 53,9 persen pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2025.

Adapun laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (profit after tax and minority interest/PATAMI) meningkat 77,3 persen menjadi Rp989 miliar.

Peningkatan PBT dan PATAMI tersebut didorong oleh pendapatan operasional yang menguat, beban overhead yang terkendali, dan penurunan signifikan pada biaya provisi.

Baca juga: Dana Rp30 Miliar Hilang, Keluarga Kent Lisandi Menang Gugatan Lawan Maybank

Di samping itu, pendapatan bunga tumbuh 3,2 persen, ditopang oleh peningkatan imbal hasil terhadap loan average balance dan portofolio surat berharga, serta penerapan pricing yang disiplin.

Meski beban bunga masih tinggi akibat meningkatnya dana mahal, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tetap tumbuh 0,8 persen menjadi Rp5,37 triliun.

Sementara margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turun 16 bps yoy menjadi 4,3 persen.

Baca juga: Maybank Indonesia Lawan Putusan PN Jakarta Pusat soal Dana Rp30 Miliar

Pendapatan nonbunga (non-interest income/NOII) meningkat 10,7 persen menjadi Rp1,58 triliun, terutama dari pendapatan Global Markets yang melonjak 618,3 persen menjadi Rp300 miliar, didorong perdagangan valas dan efek. Secara keseluruhan, gross operating income naik 2,9 persen menjadi Rp6,95 triliun.

Strategi Rebalancing dan Pertumbuhan Kredit Segmen Utama

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kinerja top-line Maybank Indonesia sepanjang sembilan bulan 2025 terus menguat, didorong pertumbuhan kredit berkelanjutan di segmen utama, peningkatan pendapatan operasional, dan pengelolaan biaya yang disiplin.

“Melalui portfolio rebalancing, kami menyelaraskan kembali fokus bisnis Bank sejalan dengan strategi super growth, dengan tujuan memberikan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan. Untuk itu, kami akan memperkuat segmen utama, khususnya wealth, otomotif, UKM, dan korporasi lokal besar, yang terus menunjukkan pertumbuhan dan ketahanan solid di tengah kondisi kredit yang ketat. Demikian juga, segmen Business Banking kami telah terus mempertahankan momentum pertumbuhannya sepanjang tahun," kata Steffano dalam keterangan resmi dikutip Minggu, 2 November 2025.

Baca juga: Maybank Marathon 2025 Dorong Ekonomi Bali Capai Rp170,8 Miliar

Sejalan dengan strategi rebalancing, total kredit Maybank Indonesia turun 1,6 persen menjadi Rp120,42 triliun. Namun, penurunan ini diimbangi dengan kinerja kuat dari segmen Community Financial Services (CFS) ritel dan nonritel yang tumbuh 7,8 persen menjadi Rp86,05 triliun.

Kredit CFS Nonritel naik 10,1 persen menjadi Rp38,43 triliun, ditopang pertumbuhan kredit komersial (Business Banking) sebesar 18,5 persen, diikuti kredit SME+ tumbuh 6,4 persen, dan Retail SME (RSME) naik 4,3 persen.

Sementara itu, kredit CFS Ritel meningkat 6,1 persen menjadi Rp47,62 triliun, didukung pertumbuhan pembiayaan otomotif sebesar 9,6 persen, kredit konsumer (Kartu Kredit dan KTA) 2,4 persen, serta kredit pemilikan rumah (KPR) 2,1 persen.

Kredit segmen Global Banking untuk korporasi lokal skala besar tumbuh 7,7 persen menjadi Rp11,88 triliun.

Namun, karena penurunan pinjaman korporasi low-yielding sebesar 29,8 persen, total kredit GB turun 19,3 persen.


Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat

Adapun, kualitas aset terus membaik dengan rasio Non-Performing Loans (NPL) turun menjadi 2,4 persen (gross) dan 1,5 persen (net) per September 2025, dibandingkan 2,9 persen (gross) dan 1,7 persen (net) setahun sebelumnya. Saldo NPL juga turun 17,4 persen yoy.

Likuiditas bank tetap sehat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 77,5 persen, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 163,6 persen (di atas ketentuan minimum 100 persen), dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 118,7 persen.

Baca juga: Jurus Allianz Life dan Maybank Indonesia Dukung Nasabah Wujudkan Rencana Finansial

Posisi permodalan pun solid, tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) 27,1 persen dan Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,9 persen. (*)

Editor: Yulian Saputra

Halaman12

Page: 1 2

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Kriminalisasi Kredit Macet: Banyak Analis Kredit yang Minta Pindah Bagian dan Bahkan Rela Resign

Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group EKONOMI politik perbankan Indonesia sedang sakit.… Read More

39 mins ago

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

13 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

14 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

14 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

20 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

21 hours ago