Poin Penting:
- Pemerintah menargetkan CNG menggantikan LPG 3 kg mulai tahun ini secara bertahap.
- Penggunaan CNG berpotensi menghemat subsidi negara hingga 20–30 persen dibanding LPG.
- Masyarakat tidak perlu mengganti kompor karena CNG dapat digunakan langsung (plug and play).
Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membidik penggunaan CNG (Compressed Natural Gas) sebagai pengganti LPG tabung 3 kg mulai tahun ini. Kebijakan ini diarahkan untuk menekan ketergantungan impor energi sekaligus menghemat anggaran subsidi negara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan rencana tersebut sudah masuk tahap persiapan teknis. “Tahun ini,” ujarnya saat ditemui di sela acara “CNG & LNG untuk Rakyat” di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan tabung gas berukuran kecil untuk menyesuaikan karakteristik CNG yang berbeda dengan LPG. Perbedaan utama terletak pada tekanan gas, di mana CNG mencapai sekitar 250 bar, jauh lebih tinggi dibanding LPG yang berada di kisaran 5–10 bar.
Baca juga: Tekan Emisi Gas Rumah Kaca, DSNG Uji Coba Produksi Bio-CNG Plant
Persiapan Implementasi CNG untuk Rumah Tangga
Implementasi CNG sebagai pengganti LPG 3 kg membutuhkan penyesuaian desain tabung demi faktor keselamatan. Laode menekankan bahwa seluruh tahapan pengujian dilakukan secara ketat oleh Lemigas.
“Lemigas (Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi) dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kami lakukan, kemudian uji tekanan, dan lain-lain. Ini memang faktor yang paling penting,” ucapnya.
Selain aspek teknis, pemerintah juga menyiapkan pola distribusi. Pada tahap awal, distribusi akan difokuskan di kota-kota besar di Pulau Jawa sebelum diperluas secara nasional.
“Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Tahun ini,” ujar Laode.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menambahkan, teknologi CNG bukan hal baru karena telah digunakan di sektor perhotelan, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, selama ini penggunaannya masih terbatas pada tabung berkapasitas besar.
Potensi Penghematan Subsidi hingga 30 Persen
Penggunaan CNG dinilai mampu memberikan efisiensi signifikan terhadap anggaran negara. Pemerintah memperkirakan penghematan subsidi bisa mencapai 20–30 persen dibandingkan LPG.
“Dengan konten yang sama, dengan harga yang sama dengan LPG 3kg, kita bisa menghemat 30 persen. Subsidinya lebih rendah (CNG) daripada subsidi LPG,” ujar Laode.
Ia menjelaskan, beban LPG tidak hanya berasal dari subsidi, tetapi juga impor yang menyedot devisa negara.
“Jadi, ada dua beban sebenarnya dari LPG. Sudah subsidi, dia impor. Ini ada devisa juga kita keluarkan,” ucapnya.
Sebaliknya, CNG memanfaatkan gas bumi domestik yang melimpah, termasuk cadangan baru yang ditemukan di Kalimantan Timur. Hal ini membuka peluang besar untuk mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri.
Meski demikian, skema subsidi untuk CNG masih dalam tahap kajian, termasuk mekanisme dan besaran yang akan diterapkan.
Kompor Tak Perlu Diganti, Transisi Lebih Mudah
Dalam implementasinya, pemerintah memastikan masyarakat tidak akan terbebani biaya tambahan. Penggunaan CNG tidak mengharuskan penggantian kompor.
“Kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tadinya pakai LPG, sekarang pakai CNG,” ujar Laode.
Ia juga menyebutkan bahwa teknologi tabung terbaru memungkinkan penggunaan langsung tanpa modifikasi. Bahkan, hasil pengamatan menunjukkan kualitas api yang dihasilkan lebih baik.
“Saya sudah menyaksikan langsung penggunaan (tabung) tipe 1, itu valve-nya langsung bisa, bahkan tidak ada lagi modifikasi di kompor. Langsung plug and play, nyala kompor itu dengan CNG. Dan apinya lebih biru malah kalau saya perhatikan,” kata Laode.
Baca juga: Dampak Selat Hormuz, Bea Masuk LPG Dipangkas jadi 0 Persen
Langkah ini menjadi bagian dari roadmap pemerintah untuk mengurangi penggunaan LPG secara bertahap dan menggantinya dengan energi berbasis gas domestik.
Di sisi lain, uji coba tabung CNG ukuran kecil masih berlangsung dan diperkirakan membutuhkan waktu 2–3 bulan sebelum diputuskan kelayakannya untuk digunakan secara luas.
Kebijakan peralihan ke CNG dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan beban subsidi yang selama ini didominasi oleh LPG impor. (*)
Editor: Yulian Saputra


