Poin Penting
- LPEM FEB UI merekomendasikan BI menahan BI Rate di level 5,75 persen pada RDG Agustus 2026 untuk menjaga ruang kebijakan ke depan
- Penahanan suku bunga dinilai dapat menjaga sektor riil dari tekanan tambahan akibat kenaikan biaya pendanaan
- Tekanan eksternal dan domestik relatif terkendali, didukung stabilitas pasar setelah transisi kepemimpinan BI serta meredanya tensi geopolitik.
Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyatakan Bank Indonesia (BI) sebaiknya menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.
“BI sebaiknya menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur guna menjaga ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan di masa mendatang,” kata Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI dalam keterangannya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Riefky menjelaskan, mempertahankan suku bunga tersebut juga akan menghindari penambahan tekanan yang tidak perlu terhadap sektor riil, sehingga dapat meningkatkan biaya pendanaan.
Dari sisi eksternal, The Fed menahan suku bunga acuannya di 3,50 persen hingga 3,75 persen pada rapat Federal Open Market Comittee (FOMC) di akhir Juli lalu.
Baca juga: IHSG Berpotensi Sideways, Investor Cermati Hasil RDG BI
Namun, keputusan ini diwarnai dengan perbedaan pendapat oleh tiga dari 12 anggota FOMC yang ingin menaikkan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps menyusul kekhawatiran akan inflasi yang berkepanjangan.
“Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga kebijakannya dapat dijustifikasi melihat perkembangan situasi di pasar tenaga kerja. AS saat ini menghadapi penurunan penyerapan tenaga kerja dengan mencatatkan pengurangan 23.000 lapangan kerja di Juli 2026, Tetapi, tingkat pengangguran di AS turun dari 4,2 persen di Juni 2026 ke 4,1 persen di Juli 2026” imbuhnya.
Dari sisi domestik, sektor keuangan mengalami guncangan menyusul pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara mendadak yang diumumkan pada 27 Juli lalu.
Berita tersebut pada awalnya berdampak negatif terhadap aset finansial Indonesia, di mana rupiah melemah dan pasar saham mengalami penurunan di hari pengumuman berita tersebut.
“Tetapi, reaksi pasar relatif terjaga dan tidak sampai memicu arus modal keluar atau tekanan berkelanjutan di sektor keuangan,” ujar Riefky.
Menurutnya, hal itu didukung oleh jaminan keberlanjutan kebijakan di bawah Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti serta perhatian investor terhadap proses pergantian pejabat dan tidak adanya perubahan mendadak terhadap kerangka kebijakan Bank Indonesia secara umum.
“Penunjukkan Destry Damayanti nampaknya cukup menenangkan pasar keuangan. Selain itu, Destry Damayanti dinominasikan oleh Presiden sebagai calon tunggal pengganti Gubernur BI melanjutkan sentimen positif di pasar modal,” tambahnya.
Baca juga: Ekonom Ramal BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Ini Pertimbangannya
Dengan begitu, BI masih memiliki ruang untuk menahan BI Rate seiring dengan meredanya tekanan eksternal secara temporer akibat tensi geopolitik di Timur Tengah yang relatif terkendali dalam beberapa minggu terakhir.
“Kombinasi dari terjaganya tekanan eksternal dan perkembangan positif dalam transisi kepemimpinan di BI menciptakan momentum yang positif terhadap rupiah,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


