Poin Penting
- LPEM UI sarankan BI Rate tetap 4,75% pada RDG Februari 2026 guna menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal dan domestik.
- Arus modal keluar masih tinggi, mencapai USD1,06 miliar dalam 30 hari terakhir, dipicu sentimen dari MSCI dan Moody’s.
- Inflasi meningkat ke 3,55% (yoy) dan berpotensi naik jelang Ramadan dan Idul Fitri, sehingga BI dinilai perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menilai Bank Indonesia (BI) masih perlu mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026.
“Bank Indonesia sebaiknya mempertimbangkan menahan suku bunga acuannya di 4,75 persen pada rapat dewan gubernur mendatang sebagai langkah yang tepat,” kata Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam keterangannya, dikutip, Kamis, 19 Februari 2026.
Riefky menjelaskan, pemangkasan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar. Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga dapat menekan permintaan domestik, sementara sejumlah daerah masih dalam tahap pemulihan pascabencana.
Baca juga: LPS Klaim Suku Bunga Simpanan Bank dalam Tren Menurun
Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia mencatat arus modal keluar cukup besar, terutama setelah pengumuman dari MSCI dan Moody’s. Sejak pengumuman MSCI, arus keluar dari pasar saham mencapai USD1,01 miliar.
Sementara itu, perubahan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s turut memicu arus keluar dari pasar obligasi sebesar USD0,37 miliar. Secara kumulatif, arus modal keluar tercatat USD1,06 miliar dalam 30 hari terakhir.
Inflasi Meningkat Jelang Ramadan
Riefky menyebut, untuk meredam tekanan arus modal keluar, BI aktif meningkatkan kepemilikian surat utang pemerintah guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Dampaknya, depresiasi Rupiah relatif terbatas. Sejak akhir bulan lalu, rupiah melemah 0,27 persen dan bahkan menguat 0,44 persen (mtm) dalam 30 hari terakhir.
“Tetapi, Rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,84 persen secara year-to-date (ytd) dan terdepresiasi sebesar 3,74 persen (yoy) dalam satu tahun terakhir, mencatatkan kinerja yang lebih buruk ketimbang mayoritas mata uang negara berkembang,” imbuhnya.
Baca juga: Bos LPS Sentil Bank yang Belum Turunkan Suku Bunga Simpanan
Di sisi lain, tekanan inflasi juga meningkat. Pada awal 2026, inflasi mencapai 3,55 persen (yoy), sedikit melampaui batas atas target BI. Kenaikan ini dipicu gangguan produksi dan distribusi akibat bencana alam di sejumlah daerah sejak akhir tahun lalu.
“Indonesia segera memasuki periode Ramadan dan Idul Fitri yang umumnya memicu kenaikan permintaan terhadap bahan pangan dan transportasi, memperpanjang tekanan inflasi di bulan mendatang,” tambahnya.
Lebih lanjut, kata Riefky, BI perlu terus membuktikan independensinya, seiring independensi tersebut belakangan ini dipertanyakan menyusul penunjukan keponakan Presiden sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru. (*)
Editor: Yulian Saputra










