Categories: Perbankan

Likuiditas Perbankan Ketat, Ekonom Bank Mandiri Khawatirkan Hal Ini

Jakarta – Chief Economist PT Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut bahwa 2024 menjadi tahun terbaik bagi perbankan dalam menyalurkan kredit selama 6 tahun terakhir. Sebaliknya, dari sisi penghimpunan dana, tahun 2024 menjadi yang terburuk dari medio tersebut.

“Melihat data kami yang terakhir, pertumbuhan kredit di 2024 itu one of the best in the last 6 years. Tapi, pertumbuhan funding dana itu one of the worst in the last 6 years,” jelas Andry pada acara Economic Outlook 2025 bertema “Membaca Tanda-Tanda Akankah Terjadi Krisis di Tengah Ketidakpastian Global dan Lemahnya Daya Beli Masyarakat,” yang digelar Infobank Media Group bersama Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dan Marketing Research Indonesia (MRI), di Sangri-La Hotel, Jakarta, 4 Februari 2025.

Jika mengacu ke data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Oktober 2024, kredit perbankan mampu tumbuh sebesar 11,12 persen secara year on year (yoy). Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,74 persen.

Baca juga: Awas! Bahaya Laten Crowding Out dari Ketatnya Likuiditas di Pasar

Pada akhir 2024, Andry memproyeksi pertumbuhan kredit Bank Mandiri di kisaran 10,39 persen (yoy). Berbanding terbalik dengan kredit, DPK justru hanya diprediksi mampu tumbuh 4,48 persen (yoy).

Sementara untuk 2025, Andry bilang pertumbuhan kredit untuk Bank Mandiri masih akan terus berada di atas pertumbuhan DPK.

“Berdasarkan simulasi kami, kalau pola pertumbuhan kredit selalu outpace dari pertumbuhan DPK, itu dalam 3 tahun ke depan, LDR-nya itu akan berada di atas 95 persen,” ungkap Andry.

Umumnya, rasio LDR yang terhitung sehat berada di kisaran 78 persen sampai dengan 92 persen. Jika terlalu rendah, maka bank terbilang terlalu banyak menyimpan DPK dan tidak disalurkan dalam bentuk kredit. Dan jika LDR terlalu tinggi, maka likuiditas bank bisa dikategorikan ketat.

Hal ini, tambah Andry, juga dipersulit dengan keadaan di mana simpanan masyarakat menurun, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun berinvestasi di instrumen lain. Akibatnya, akan ada perang likuiditas bagi pelaku perbankan.

Baca juga: Menjawab Ketidakpastian Global, OJK Beberkan Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Perang likuiditas ini juga termasuk dengan regulator yang menghimpun dana masyarakat melalui instrumen investasi seperti Surat Berharga Negara Ritel (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Yang pertama adalah persaingan liqudity antar KBMI 4, karena pertumbuhan kreditnya juga relatif kencang. Yang kedua adalah antar KBMI 4 versus KBMI yang di bawahnya, terutama dengan KBMI 3. Dan yang terakhir adalah antar perbankan ke regulator,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

2 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

2 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

3 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

4 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

4 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

5 hours ago