Poin Penting
- Kuota rumah subsidi 2025 naik signifikan dari 220 ribu menjadi 350 ribu unit, dengan realisasi hingga 15 September mencapai 221.047 unit.
- Pemerintah meluncurkan KUR perumahan senilai Rp130 triliun, pertama kalinya diarahkan untuk sektor hunian, dengan bunga hanya 6 persen setelah subsidi.
- KUR perumahan mendukung sisi suplai (kontraktor, developer, toko bangunan) dan sisi permintaan (UMKM seperti homestay, warung, rumah makan) dengan plafon kredit hingga Rp500 juta.
Jakarta – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait melaporkan update terkini penyerapan program rumah subsidi sepanjang 2025.
Ara, sapaan akrabnya mengatakan, kouta rumah subsidi dinaikan secara signifikan dari 220 ribu menjadi 350 ribu unit. Peningkatan kuota ini telah diiringi dengan progres realisasi yang positif di lapangan.
“Dari 1 Januari sampai 15 September, ini yang sudah diserahkan 175.662, ini ya datanya ya, realisasi akad, kemudian yang kategori sedang pembangunan berjalan, ready stock dan persetujuan kredit, dan akad kredit ada 45 ribu. Jadi totalnya 221.047,” katanya di Istana Merdeka, Jakarta, dinukil laman Presiden RI, Selasa, 16 September 2025.
Tak hanya itu, Ara juga menjelaskan terobosan baru berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor perumahan. Ara menyebut program senilai Rp130 triliun ini menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya KUR diarahkan mendukung pembiayaan rumah rakyat, baik dari sisi suplai maupun permintaan.
Baca juga : Menteri Ara Dorong Pengembang Jaga Kualitas Rumah Subsidi
“Itu dari segi suplai ada 117 triliun. Itu yang bisa memanfaatkan adalah kontraktor, developer, dan toko bangunan. Nah itu bagus banget karena bunganya disubsidi 5 persen. Contoh mereka biasa minjem duit itu mungkin di bank 11 persen gitu ya. Dengan program ini jadi bisa disubsidi 5 persen, jadi bayarnya cuma 6 persen,” jelasnya.
Menurutnya, selain mendukung sektor suplai, KUR perumahan ini juga menyasar sisi permintaan dengan menyokong pelaku usaha mikro di bidang hunian.
Ia menilai kebijakan ini akan membuka peluang luas bagi masyarakat kecil yang berusaha di rumahnya untuk turut meningkatkan kesejahteraan.
Baca juga : Siap-Siap! Pemerintah Beri Stimulus Ekonomi Baru: Dari Insentif Pajak-Renovasi Rumah
“Kemudian dari segi demand itu kita memberikan buat misalnya yang punya homestay gitu ya. Kemudian yang buka rumah makan atau warung di rumahnya. Nah ini buat UMKM ya yang masuk ke UMKM, Pak Prabowo sangat concern itu bunganya hanya 6 persen. Dan jumlahnya sampai 500 juta. Sorry plafonnya, plafonnya sampai 500 juta, bunganya 6 persen,” ungkapnya.
Dirinya juga menegaskan bahwa program KUR perumahan merupakan hasil koordinasi lintas kementerian. Menteri PKP menyebut terobosan ini lahir berkat dukungan berbagai pihak yang mengoordinasikan pelaksanaan KUR melalui perbankan.
“Jadi belum pernah tuh ada KUR perumahan dari kita Merdeka sampai sekarang. Jadi itu terobosan banget tuh dan kita juga udah bekerja sama untuk program seperti arahan Presiden Prabowo, membuat program untuk melawan rentenir,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama










