Poin Penting
- BI mengimbau penurunan suku bunga kredit, direspons PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan mencermati arahan regulator
- BCA menetapkan bunga kredit berdasarkan suku bunga acuan, kondisi makro, dinamika pasar, dan likuiditas, dengan tetap menjaga daya beli dan kehati-hatian
- Gubernur BI Perry Warjiyo mencatat penurunan bunga deposito dan kredit masih terbatas, sehingga perlu didorong lebih lanjut untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Jakarta –Bank Indonesia (BI) kembali meminta kepada industri perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi mulai direspons pelaku industri. Salah satunya datang dari PT Bank Central Asia Tbk atau BCA.
Hera F. Haryn adalah Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA menegaskan, perseroan senantiasa mencermati setiap arahan pemerintah, regulator, dan otoritas perbankan, termasuk terkait kebijakan suku bunga kredit.
“BCA senantiasa mencermati arahan dari pemerintah, regulator, dan otoritas perbankan, termasuk terkait suku bunga,” ujar Hera kepada Infobanknews dikutip 24 Februari 2026.
Menurutnya, dalam menetapkan kebijakan suku bunga kredit, BCA tidak hanya melihat satu indikator. Sejumlah variabel menjadi pertimbangan utama, mulai dari perkembangan suku bunga acuan, parameter makroekonomi, hingga dinamika pasar.
“Pada prinsipnya, BCA mencermati perkembangan suku bunga acuan, berbagai parameter makroekonomi, dinamika pasar yang mencakup permintaan dan penawaran, serta kondisi likuiditas perbankan baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana,” jelasnya.
Hera menambahkan, perseroan secara berkala melakukan peninjauan (review) terhadap kebijakan suku bunga kredit agar tetap kompetitif dan dapat diterima pasar. Namun demikian, penyesuaian tersebut tetap memperhatikan daya beli masyarakat dan prinsip kehati-hatian.
“BCA secara berkala melakukan review kebijakan suku bunga kredit agar tetap berada pada level yang dapat diterima pasar, dengan tetap memperhatikan daya beli masyarakat,” imbuhnya.
Baca juga: BCA Mau Gelar RUPST 12 Maret 2026, Intip Agendanya
Imbauan BI Turunkan Suku Bunga
Terpisah, Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, tetapi lebih terbatas. Suku bunga deposito 1 bulan baru turun sebesar 68 bps dari 4,81 persen pada Januari 2025 menjadi 4,13 persen pada Januari 2026.
“Sehingga upaya untuk mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar yang saat ini masih mencapai 26,42 persen dari total DPK, perlu terus dilanjutkan,” ujarnya.
Dia melanjutkan, penurunan suku bunga dana tersebut juga perlu makin ditransmisikan ke penurunan suku bunga kredit perbankan yang baru turun 40 bps, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,80 persen pada Januari 2026.
“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Perry.
Baca juga: OJK Pede Kredit Perbankan 2026 Tumbuh hingga 12 Persen, Bagaimana Sektor Lain?
Target Kredit BCA 2026
Pada 2026, BCA menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8–10 persen. Target tersebut tercantum dalam Rancangan Bisnis Bank (RBB) 2026 dengan mempertimbangkan realisasi pertumbuhan kredit sepanjang 2025.
Direktur BCA, Vera Eve Lim mengatakan, perseroan memandang prospek pertumbuhan kredit pada 2026 akan lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya, seiring potensi percepatan aktivitas ekonomi.
“Untuk pertumbuhan kredit tahun ini, memperhatikan pertumbuhan (kredit) 2025 sebesar 7,7 persen, kita upgrade guidance kita untuk pertumbuhan kredit menjadi sampai 10 persen,” ujar Vera beberapa waktu lalu. (*)










