Laba SMF di 2021 Terkontraksi 2,10% Gara-Gara Ini

Laba SMF di 2021 Terkontraksi 2,10% Gara-Gara Ini

kemenkeu dan smf
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Performa bisnis PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF masih menghadapi sejumlah tantangan sepanjang tahun 2021. Laba SMF terkontraksi 2,10% year on year (yoy), dari Rp470 miliar menjadi Rp460 miliar. Namun penyaluran pinjaman tercatat tumbuh 37,38%, dari Rp6,42 triliun menjadi Rp8,82 triliun.

Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo menyampaikan, dampak pandemi Covid-19 memang masih mempengaruhi kinerja perseroan. Misalnya dari sisi sekuritisasi, sepanjang tahun lalu SMF tidak melakukan sekuritisasi sama sekali. Ini juga berkaitan dengan melimpahnya likuiditas perbankan, sehingga bank belum membutuhkan sekuritisasi aset.

Tahun sebelumnya, sekurititasi juga anjlok dalam menjadi Rp631 miliar. Padahal, tahun 2019, SMF melakukan sekurititasi hingga Rp2 triliun.

Dari sisi aset, SMF menutup tahun 2021 dengan totap aset sebesar RP33,72 triliun, atau tumbuh 3,75% secara tahunan. Di lain sisi, liabilitas dan dana syirkah temporer tercatat turun 6,51%, atau menjadi Rp7,60 triliun.

“Sedangkan total ekuitas naik 22,68% menjadi Rp14,02 triliun. Utamanya karena ada penyertaan modal negara (PMN) yang kami terima tahun 2021,” ujar Ananta dalam konferensi persyang digelar secara virtual, Rabu, 23 Maret 2022.

Adapun secara akumulasi, hingga 31 Desember 2021, SMF sudah menyalurkan dana dari pasar modal ke pasar pembiayaan primer perumahan sebesar Rp77,958 triliun. Sedangkan akumulasi penyaluran pinjaman dan pembelian KPR mencapai Rp65,17 triliun.

Sementara untuk penugasan khusus KPR FLPP, tahun lalu SMF merealisasikan pembiayaan untuk 126.572 unit rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Jumlah tersebut setara Rp4,6 triliun. Pemerintah sendiri tahun lalu menargetkan KPR FLPP untuk 157.500 unit.

Sebagai informasi, SMF mendapat penugasan untuk penurunan beban fiskal (PBF) melalui KPR FLPP, di mana perseroan menyediakan porsi pendanaan 25% untuk KPR subsidi. Sedangkan 75% sisanya menjadi porsi BLU PPDPP, yang sekarang dialihkan dan dikelola oleh BP Tapera.

Tahun ini, perseroan optimis kondisi pemulihan ekonomi akan lebih baik. Pemerintah menargetkan KPR FLPP tembus 200 ribu unit. SMF sendiri menargetkan penyaluran pinjaman bisa lebih besar dari realisasi tahun lalu yang sebesar Rp8,82 triliun. Perseroan juga sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk menggenjot kinerja, mencakup sustainability, perluasan usaha, digitalisasi, reliabilitas, dan sinergi. (*) Ari Astriawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]