Perbankan

Laba Bank Kalteng Naik 6,4 Persen Jadi Rp204,47 Miliar di Juni 2025

Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah atau Bank Kalteng mencatatkan kinerja ciamik di semester I 2025, dengan membukukan laba bersih Rp204,47 miliar. Raihan laba ini tumbuh 6,40 persen ketimbang tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp192,16 miliar.

Menurut Maslipansyah, Direktur Utama Bank Kalteng, pertumbuhan laba tak lepas dari komitmen perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan layanan digital, dan perluas penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor di Kalteng.

“Kami terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap fokus pada penguatan tata kelola, peningkatan layanan, serta inovasi produk perbankan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha daerah,” kata Maslipansyah ketika dihubungi Infobanknews, 28 Juli 2025.

Merujuk laporan keuangan perseroan, dikutip 28 Juli 2025, sepanjang kuartal II 2025, kinerja mesin intermediasi Bank Kalteng bisa dibilang cukup moncer. Buktinya, realisasi kredit Bank Kalteng tumbuh 9,90 persen dari Rp10,07 triliun di Juni 2024 menjadi Rp11,07 triliun pada Juni 2025. Penyaluran kredit ini melampaui rata-rata industri yang tumbuh 7,77 persen di Juni 2025, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga: J Trust Bank Cetak Laba Bersih Rp112 Miliar di Semester I 2025, Ini Penopangnya

Kualitas kredit juga terjaga. Ini tercermin dari rasio non performing loan (NPL) gross di level 2,90 dan NPL net ada di level 1,65. Rasio NPL ini jauh di bawah ambang batas yang ditentukan regulator, yakni 5 persen.

Sejalan dengan pertumbuhan kredit, pendapatan bunga Bank Kalteng terkerek naik. Per Juni 2025, pendapatan bunga Bank Kalteng naik 12,13 persen menjadi Rp798,11 miliar. Di sisi lain, beban bunga membengkak 37,48 persen dari Rp156,27 miliar (Juni 2024) menjadi Rp214,85 miliar (Juni 2025). Meski demikian, pendapatan bunga bersih Bank Kalteng tetap tumbuh 5 persen menjadi Rp583,26 miliar di Juni 2025.

Sementara dari sisi funding, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Kalteng tetap menunjukan tren peningkatan di tengah likuiditas perbankan yang makin ketat. Per Juni 2025, DPK Bank Kalteng tembus Rp13,51 triliun, naik 8,92 persen ketimbang tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp12,40 triliun.

Jika diruinci, pertumbuhan DPK tersebut didorong pos tabungan yang tumbuh 14,22 persen dari Rp2,76 triliun (Juni 2024) menjadi Rp3,15 triliun (Juni 2025 dan deposito meroket 33,11 persen dari Rp2,88 triliun (Juni 2024) menjadi Rp3,84 triliun (Juni 2025). Sedangkan giro mengalami kontraksi 3,58 persen menjadi Rp6,51 triliun.

Pertumbuhan DPK pada Juni 2025 turut melesatkan komposisi rasio dana murah (CASA) bank kebanggaan masyarakat Kalteng ini yang mencapai 71,54 persen.

Dari sisi efisiensi operasional, Bank Kalteng tercatat masih mengalami tekanan. Ini tercemin dari Biaya Operasional terhadap Biaya Operasional (BOPO) yang naik dari 68,78 persen di Juni 2024 menjadi 70,80 persen pada Juni 2025. Meski demikian, level BOPO ini masih di bawah batas ideal yang ditetapkan regulator, yakni 85 persen.

Rasio keuangan lainnya menunjukkan kinerja yang stabil. Return on asset (ROA) berada di level 2,65 persen, sementara return on equity (ROE) tercatat 12,26 persen.

Baca juga: Laba Bank Jakarta Naik 24,42 Persen Jadi Rp421,19 Miliar di Juni 2025, Ini Penopangnya

Sedangkan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) meningkat menjadi 81,92 persen. Ini mencerminkan optimalisasi DPK dalam penyaluran kredit.

Menutup paruh pertama tahun 2025, total aset Bank Kalteng mengalami peningkatan hingga 10,75 persen menjadi Rp19,47 triliun ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar Rp17,58 triliun.

Sementara dalam mengarungi semester II 2025, Maslipansyah mengatakan, pihaknya akan terus memperkuat transformasi digital. Salah satunya melalui layanan mobile banking Betang Mobile dengan fitur QRIS untuk mendorong inklusi keuangan di wilayah Kalteng.

“Di era digital ini, kami tidak hanya berfokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga memastikan layanan perbankan kami semakin mudah diakses, aman, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkas Maslipansyah. (*)

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

BTN Beberkan Tiga Pilar Transformasi Layanan, Apa Saja?

Poin Penting PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk tengah mengakselerasi transformasi besar-besaran di lini operasionalnya… Read More

2 hours ago

Jangan Sampai Boncos, Perencana Keuangan Ungkap 3 Prinsip Utama Kelola THR

Poin Penting PT Bank Aladin Syariah Tbk bekerja sama dengan financial planner Ayu Sara Herlia… Read More

6 hours ago

Industri Asuransi Jiwa Sudah Bayar Klaim Korban Bencana Sumatra Rp2,6 Miliar

Poin Penting Industri asuransi jiwa telah menyalurkan klaim sekitar Rp2,6 miliar kepada korban bencana di… Read More

10 hours ago

Investasi Asuransi Jiwa Tembus Rp590,54 Triliun, Mayoritas Parkir di SBN

Poin Penting AAJI mencatat industri asuransi jiwa mencatat total investasi Rp590,54 triliun pada 2025, naik… Read More

11 hours ago

Rosan Dapat Pesan Khusus Prabowo soal Pengembangan Ekonomi Syariah

Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menekankan ekonomi syariah harus dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat. Rosan… Read More

11 hours ago

Klaim Asuransi Kesehatan Naik 9,1 Persen Jadi Rp26,74 Triliun Sepanjang 2025

Poin Penting Klaim asuransi kesehatan naik 9,1 persen pada 2025, mencapai Rp26,74 triliun, mencerminkan meningkatnya… Read More

11 hours ago