Expertise

Kucuran Rp200 Triliun Tanpa Konsep; Saatnya Proyek Inti Rakyat

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi & Perbankan

PEMERINTAH mengumumkan kucuran dana jumbo sebesar Rp200 triliun. Angka ini fantastis, namun menjadi sorotan tajam ketika publik menyadari bahwa dana sebesar itu dilepas tanpa kebijakan, tanpa rencana bisnis, tanpa konsep, dan tanpa arah strategis. Ibarat menabur benih di tanah tandus, hasilnya nihil, bahkan bisa berbuah bencana fiskal di masa depan.

Padahal, uang negara bukan sekadar angka di kertas anggaran, melainkan darah yang mengalir ke seluruh tubuh perekonomian nasional. Bila alirannya tersumbat, salah arah, atau bocor di tengah jalan, rakyatlah yang paling dulu menanggung akibatnya.

Konsumsi Rakyat Penopang Ekonomi

Fakta ekonomi menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia di sisi pengeluaran lebih dari 50% didominasi oleh konsumsi masyarakat. Artinya, rakyatlah motor utama pertumbuhan ekonomi negeri ini. Namun, ironis, belanja pemerintah dan investasi swasta justru tertinggal perannya. Dalam struktur pendapatan negara pun sama: pajak rakyat masih menjadi tulang punggung.

Maka, pertanyaan mendasar: mengapa uang Rp200 triliun tidak diarahkan kembali untuk memperkuat basis rakyat yang telah menjadi penopang utama ekonomi bangsa?

Baca juga: OJK Awasi Ketat Pengelolaan Duit Negara Rp200 Triliun di 5 Bank Himbara

Risiko Tanpa Konsep

Tanpa kebijakan jelas, dana sebesar itu mengandung banyak kerawanan. Satu, tersedot ke birokrasi dalam bentuk proyek administratif tanpa nilai tambah. Dua, terserap proyek mercusuar yang indah di atas kertas, namun minim manfaat.

Tiga, terancam kebocoran melalui korupsi dan inefisiensi. Empat, membebani fiskal jangka panjang karena bersumber dari utang, yang akhirnya harus ditutup dengan pajak rakyat.

Kita tidak boleh lupa, beban bunga utang negara setiap tahun kian meningkat, sementara defisit fiskal terus menganga. Bila uang/dana Rp200 triliun ini tidak diarahkan dengan benar, generasi mendatanglah yang dipaksa menanggung beban.

Saatnya Proyek Inti Rakyat

Dana Rp200 triliun seharusnya tidak berhenti pada jargon “stimulus”, tetapi dikemas menjadi Proyek Inti Rakyat – sebuah agenda nasional berbasis sektor riil, yang menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan. Arah kebijakan ini bisa diwujudkan melalui hal-hal berikut. Satu, pertanian dan perkebunan berbasis bagi hasil yang mengangkat martabat petani dan pekebun. Dua, koperasi modern sebagai tulang punggung distribusi modal dan keuntungan.

Tiga, padat karya produktif untuk menyerap tenaga kerja, memperkuat daya beli, sekaligus mencegah urbanisasi berlebihan. Empat, ekonomi hijau berkelanjutan, agar investasi rakyat sejalan dengan agenda lingkungan global.

Outcome Proyek Inti Rakyat

Bila dijalankan dengan konsisten, Proyek Inti Rakyat akan menghasilkan outcome nyata. Satu, pengentasan kemiskinan. Dengan sistem bagi hasil, pendapatan petani dan pekebun meningkat, rantai distribusi lebih adil, dan kesenjangan pendapatan berkurang. Rakyat kecil tidak lagi hanya penerima subsidi, tetapi penerima manfaat dari produktivitas mereka sendiri.

Dua, mengatasi pengangguran terbuka. Program padat karya produktif mampu menyerap jutaan tenaga kerja baru, terutama di perdesaan, sehingga angka pengangguran terbuka menurun signifikan. Hal ini juga memperkuat daya beli domestik yang menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi.

Tiga, pemberdayaan ekonomi lokal. Modal Rp200 triliun akan berputar di desa-desa, UMKM, dan koperasi, bukan hanya di pusat kota atau kelompok elite.

Baca juga: Dapat Suntikan Dana Rp10 T, Bos BSI Beberkan Strategi Tingkatkan Pembiayaan

Penutup

Ketika negara menyalurkan dana dengan konsep yang jelas, rakyat tidak lagi diposisikan sebagai objek pasif penerima bantuan, melainkan subjek aktif pembangunan. Dana Rp200 triliun tanpa konsep hanyalah ilusi fiskal. Dana Rp200 triliun dengan Proyek Inti Rakyat adalah jalan perubahan untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi pengangguran terbuka.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, rakyat sudah terbukti menjadi penopang utama bangsa – dari konsumsi hingga pajak. Kini tiba waktunya rakyat menggugat: mengapa dana raksasa Rp200 triliun tidak diarahkan untuk memperkuat ekonomi rakyat?

Dana Rp200 triliun tanpa konsep hanyalah kebijakan hampa. Saatnya Proyek Inti Rakyat menjadi pilihan utama, agar uang negara benar-benar kembali pada pemilik sejati: rakyat Indonesia. (*)

Galih Pratama

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

35 mins ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

1 hour ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

2 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

3 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

3 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

4 hours ago