Keuangan

KSSK: Sistem Keuangan RI Tetap Stabil di Tengah Konflik Rusia-Ukraina

Jakarta – Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan sistem keuangan di Indonesia tetap stabil ditengah tekanan eksternal akibat konfik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, pihaknya bersama Kemenkeu sudah melakukan beberapa langkah untuk menjaga stabilitas keuangan moneter. Salah satunya adalah dengan melakukan penyesuaian terhadap yield SBN.

Hal ini disebabkan oleh meningkatnya suku bunga Bank Sentral Amerika, Fed Fund Rate (FFR) yang agresif akibat inflasi yang tinggi. Kenaikan FFR akan berdampak pada meningkatnya US Treasury yang akhirnya menekan yield Surat Berharga Negara (SBN).

“Kalau naik (US Treasury), ada kemungkinan tekanan-tekanan yield SBN dalam negeri juga meningkat. Penyesuaian yield ini yang kami koordinasikan supaya ada kenaikan tetapi secara wajar dan memberikan daya tarik modal asing untuk masuk,” jelas Perry pada paparannya, Rabu, 13 April 2022.

Kemudian, BI juga terus memonitor pergerakan nilai tukar Rupiah yang saat ini masih stabil. Perry menyebut dukungan positif terhadap nilai tukar masih cukup kuat. Kondisi neraca perdagangan cukup bagus bahkan surplus sehingga pasokan valas dalam negeri menjadi cukup dan mendukung nilai tukar yang stabil. Memang ada depresiasi namun masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain.

Adapun surplus neraca perdagangan pada Februari 2022 meningkat mencapai US$3,83 miliar. Peningkatan ini didukung oleh surplus neraca perdagangan non migas terutama dengan meningkatnya harga-harga komoditas global seperti batu bara, besi, baja serta CPO.

Terakhir, BI memastikan cadangan devisa saat ini lebih dari cukup. Per Maret 2022 cadangan devisa mencapai US$139,1 miliar yang setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah.

“KSSK terutama BI telah dan akan terus memastikan stabilitas eksternal terjaga dari dampak kenaikan FFR maupun ketegangan geopolitik terhadap kenaikan yield US Treasury,” jelasnya. (*)

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Evan Yulian

Recent Posts

Prabowo Klaim Pemulihan Bencana Aceh Tamiang Hampir 100 Persen

Poin Penting Prabowo Subianto menyebut pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang hampir 100 persen, dengan warga… Read More

3 hours ago

Waspada! Modus Fake BTS Kuras Rekening, Begini Cara Menghindarinya

Poin Penting Pelaku menggunakan perangkat ilegal untuk meniru menara BTS, sehingga bisa mengirim SMS phishing… Read More

3 hours ago

Strategi Paramount Land Genjot Penjualan Properti di Momen Lebaran 2026

Jakarta - Momentum Lebaran 2026 dimanfaatkan Paramount Land untuk mengakselerasi penjualan properti melalui kombinasi strategi… Read More

3 hours ago

Sambut Idulfitri, Tugu Insurance Gelar Aksi Kebaikan

Poin Penting Tugu Insurance menyalurkan 1.000 paket sembako dan santunan kepada anak yatim serta keluarga… Read More

3 hours ago

OJK Cabut Izin Usaha Pengelola Aset Kripto Tennet Depository

Poin Penting OJK cabut izin PT Tennet Depository Indonesia sebagai pengelola penyimpanan aset keuangan digital… Read More

5 hours ago

Pemerintah Berlakukan WFH usai Lebaran, Ini Skema dan Alasannya

Poin Penting Pemerintah menerapkan WFH sehari dalam sepekan bagi ASN dan mengimbau sektor swasta untuk… Read More

19 hours ago