Poin Penting
- Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu sentimen risk off global.
- BI akan melakukan intervensi melalui instrumen NDF di pasar luar negeri serta spot dan DNDF di pasar domestik.
- BI juga mengoptimalkan kebijakan untuk memperkuat transmisi suku bunga dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) merespons terkait dengan dampak dari eskalasi konflik Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran terhadap pasar keuangan Indonesia.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, BI akan terus mencermati dinamika pasar dari konflik tersebut secara tepat dan memastikan stabilitas nilai tukar rupiah.
“Sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran yang mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global, Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Erwin dalam keterangannya, Senin, 2 Maret 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah setelah Meletus Perang AS-Israel vs Iran
Erwin juga memastikan bahwa BI akan tetap hadir melalui berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar rupiah, baik di pasar global maupun domestik.
“Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” ungkapnya.
Baca juga: Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI
Selain itu, tambah Erwin, BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga. (*)
Editor: Yulian Saputra










